SERING kita menemukan di hampir semua perkantoran di Indonesia, papan informasi tentang pejabat di kantor bersangkutan. Papan informasi tersebut digantun di bagian depan, seolah ingin menunjukkan kepada tanya atau masyarakat, pejabat A sedang berada di kantor dan pejabat B sedang keluar. Jadi, mohon maaf jika harus menunggu atau urusan Anda tidak bisa ditangani hari ini.
Itulah tujuan dibuatnya papan informasi kepala publik karena yang bersangkutan memang pejabat publik. Semasa menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum Aceh Utara, saya melihat papan informasi juga terpasang di sana secara mubazir.
Saya katakan mubazir karena hampir tidak ada tamu yang menjadikan papan itu sebagai sumber informasi. Bahkan melirik ke papan informasi pun tidak. Dan untuk apa pun mereka melihat ke sana, jika sumber informasi itu tak pernah diperbaharui sejak dibuat.
Seharusnya, sumber informasi itu berubah setiap saat, sesuai kondisi yang ada. Ketika pejabat A masuk, maka di sana terlihat posisi dia ADA. Ketika jam 10:00 dia keluar untuk ngopi sampai pukul 12:00 belum kembali, seharusnya informasi sudah berubah. Pejabat bersangkutan sedang KELUAR. Termasuk ketika pejabat bersangkutan sedang dinas luar kota selama beberapa hari, bahkan beberapa pekan.
Papan informasi dibuat untuk memberikan informasi kepada publik. Meski biayanya tidak mahal, untuk apa papan informasi itu dibuat kalau tidak dijadikan sebagai rujukan, juga tidak pernah diperbaharui, tidak pernah disentuh sehingga berdebu. Ironisnya, ada papan informasi tak pernah berganti meski pejabat di sana sudah beberapa kali mutasi—bahkan ada yang sudah meninggal dunia Tapi dia masih disebutkan ADA di kantor.
Coba perhatikan beberapa papan informasi di perkantoran. Seberapa akurat informasi yang ada. Dan seberapa banyak tamu menjadikan sumber informasi itu sebagai rujukan?
Mahasiswa bisa menjadikan fenomena ini sebagai sumber riset untuk skripsi.[]