Have you ever heard stories of friends about certain foods or drinks that they think are most delicious? Or do you feel that the most delicious meatballs are in the school cafeteria first? The most delicious mixed ice is in the campus canteen or the most delicious fried rice in the city where you spent your childhood. Have you ever told friends about past cuisine?
Culinary is not just food and drink. In culinary history, the journey of human civilization contains many memories about someone or about a place or a moment that will never be forgotten. A lot of history happened at the dining table. Many important decisions occur at the dining table, and a lot of diplomacies occurs at the dining table. In short, many major changes in the world occur at the dining table.
The one night in Medan, North Sumatra, some friends and I looked for dinner. Bang Ridwan Hadi who had studied in Medan and lived there for a long time, invited us all to eat in a place that he thought was very delicious and cheap. Delicious, cheap, and healthy is always a consideration in choosing food. I think this applies in any country with a number of additional variables according to culture and background.
We, who departed from the inn with two cars, had to go around several roads because Bang Ridwan Hadi had not eaten there for a long time. He must gather memories to find places to eat in the past. I, who was riding in the back of the car, went down the last and found Bang Ridwan Hadi and the first group enjoying dinner. The place was not a fancy restaurant, only tents were erected in front of a row of shops. Easy to guess, the owner only sells at night when the shops behind him close. Easy to guess, this is a typical culinary student who prioritizes low prices.
I imagine it must be delicious. However, when I enjoyed the tongue I did not find an extraordinary taste sensation. In fact, the food feels strange on the tongue.
When I returned to the hotel, I immediately said the food there was not delicious, unlike what was promoted by Bang Ridwan Hadi. Other friends like Haji Nazaruddin Ibrahim, Muhammad AH, and several others agreed. Apparently, Bang Ridwan Hadi was a bit hesitant about his place there. "I think is not the place," he admitted.
It's okay, rice has entered the stomach. Problems also come later. We all have stomach aches due to the food, and Bang Ridwan Hadi is the illest. He got diarrhea.
That's the memory of food that sometimes tastes different from the present. Not the food is delicious, but there are memories behind the food that makes it more enjoyable. I have a lot of memories of some types of food. For example, for fresh vegetables especially basil leaves, I always remember my wife because she was the one who liked vegetables and I was affected. Likewise with pomfret because when we were dating we once enjoyed pomfret in front of the National Monument Park, Jakarta.
As for es cendol, pangsit noodles, and tiaw noodles, in my opinion, the most delicious is in Bireuen. That's my view from the past until now when I have had the opportunity to compare the taste of noodles with various cities in Indonesia. About Bireuen's (Aceh, Indonesia) noodle, not only me, many others also share the same opinion.
Don't believe what I said, you have to go to Bireuen to prove it. []
Sepotong Kenangan di Balik Kuliner
Pernahkan Anda mendengar cerita sahabat mengenai makanan atau minuman tertentu yang menurut mereka paling enak? Atau Anda sendiri merasa bahwa bakso yang paling enak itu ada di kantin masa sekolah dulu? Es campur paling enak ada di kantin kampus atau nasi goreng paling enak ada di kota tempat Anda menghabiskan masa kecil. Pernahkan Anda bercerita tentang kuliner masa lalu kepada teman-teman?
Kuliner memang bukan sekadar makanan dan minuman. Dalam kuliner mengandung sejarah, perjalanan peradaban umat manusia, mengandung banyak kenangan tentang seseorang atau tentang suatu tempat atau sebuah momen yang takkan pernah terlupakan. Banyak sejarah terjadi di meja makan. Banyak keputusan penting terjadi di meja makan, dan banyak diplomasi terjadi di meja makan. Singkatnya, banyak perubahan besar di dunia terjadi di meja makan.
Suatu malam di Medan, Sumatera Utara, saya dan beberapa sahabat mencari makan malam. Bang Ridwan Hadi yang pernah kuliah di Medan dan lama tinggal di sana, mengajak kami semua makan di sebuah tempat yang menurutnya sangat nikmat dan murah. Nikmat, murah, dan sehat selalu menjadi pertimbangan dalam memilih makanan. Saya pikir ini berlaku di negara mana saja dengan sejumlah variabel tambahan sesuai budaya dan latar belakang.
Kami yang berangkat dari tempat penginapan dengan dua mobil, harus berkeliling di beberapa ruas jalan karena sudah lama Bang Ridwan Hadi tidak makan di sana. Dia harus mengumpulkan kenangan untuk menemukan tempat makan di masa lalu. Saya yang menumpang di mobil belakang, turun paling akhir dan menemukan Bang Ridwan Hadi beserta rombongan pertama sedang menikmati makan malam. Tempat itu bukan rumah makan yang mewah, hanya tenda yang didirikan di depan deretan pertokoan. Mudah ditebak pemiliknya hanya berjualan pada malam saja ketika toko-toko di belakangnya tutup. Mudah pula ditebak, ini kuliner khas mahasiswa yang mengutamakan harga murah.
Saya bayangkan pasti lezat. Namun, ketika menikmatinya lidah saya tidak menemukan sensasi rasa yang luar biasa. Bahkan, makanan itu terasa aneh di lidah.
Saat kembali ke hotel, saya langsung bilang makanan di sana tidak lezat, tidak seperti yang dipromosikan Bang Ridwan Hadi. Sahabat yang lain seperti Haji Nazaruddin Ibrahim, Muhammad AH, dan beberapa yang lain, sependapat. Ternyata, Bang Ridwan Hadi pun agak ragu tempatnya di sana. “Sepertinya bukan itu tempatnya,” katanya mengakui.
Apa boleh buat, nasi sudah masuk ke perut. Permasalahan pun datang kemudian. Kami semua sakit perut karena makanan itu, dan Bang Ridwan Hadi yang paling parah sakitnya. Dia sampai diare.
Begitulah memori tentang makanan yang terkadang rasanya berbeda dengan zaman sekarang. Bukan makanannya yang lezat, tetapi ada kenangan di balik makanan yang membuatnya menjadi lebih nikmat. Saya punya banyak kenangan tentang beberapa jenis makanan. Misalnya, untuk lalapan terutama daun kemangi, saya selalu ingat dengan istri saya karena dialah yang menyukai lalapan dan saya terpengaruh. Demikian juga dengan ikan bawal karena ketika masih berpacaran dulu kami pernah menikmati ikan bawal bakal di depan Taman Monumen Nasional, Jakarta.
Sedangkan untuk es cendol, mie pangsit, dan mie tiaw, menurut saya yang paling enak itu di Bireuen. Itu pandangan saya sejak dulu sampai sekarang, ketika sudah memiliki kesempatan membandingkan rasa mie tiaw dengan di berbagai kota di Indonesia. Soal mie tiaw Bireuen, bukan hanya saya, banyak orang lain juga berpendapat sama.
Jangan percaya apa yang saya katakana, Anda harus ke Bireuen untuk membuktikannya.[]