Sore itu...
Suatu ketika duduk di tepi sungai ditemani angin sepoi-sepoi, aku adalah si anak kampung datang ke kota untuk mengubah nasib, tak mau dibilang bodoh apalagi dipanggil bodoh, karena aku tau aku bukanlah orang bodoh.
Karena itu aku datang kesini (kutaraja) mengubah nasib menimba ilmu, tak ingin terus terpuruk di pelosok desa, kutepikan rasa gengsiku ku mulai menggali rupiah untuk menamatkan pendidikanku.
Biarkan burung itu berkicau anggap saja mereka bernyanyi, biar saja mereka riuh karena yang kubuat halal adanya. Sadar diri aku bukanlah orang mampu, tapi bercita besar. Terus berjalan menyusuri langkah kaki, hilang rasa lelah demi menggapai cita.
Pagi, siang dan malam kujadikan waktu yang berharga, hari-hari terlewati hilang rasa malu di hati saat rupiah kuhitung. Warung demi warung kuhampiri untuk menitip daganganku, disaat orang lain asik dengan mimpinya, kuterbangun menyiapkan daganganku...
Saat orang lain sibuk dengan masa mudanya dan aku sibuk mencari rezeki. Ketika kehidupan kota menggodaku, kembali kupertanyakan pada diri sendiri apa tujuanku disini? bukanlah untuk bermain-main.
Mengingat siang malam orang tuaku menadah tangannya keatas, meminta kepada yang Kuasa agar cita-cita ku dikabulkan, kenapa aku harus berkhianat kepada mereka!!!
Bulan terlewati tahun pun terganti penuh cobaan dan rintangan, waktu yang sudah direncanakan harus bisa di tepati, membuat mereka bangga itu impianku.
Tiga tahun berlalu yang diimpikan menjadi nyata, aku memakai toga. Perjuangan itu menjadi kenangan indah untukku, seakan keripik-keripik itu sangat berjasa dalam perjuanganku, bersama suka dan cita, bahagia bisa menepati janji pada mereka yang terkasih.
Memberi selembar ijazah D-III itulah yang kumampu, tapi kubersyukur karena sedikit banyaknya atas jerih payahku.
Oh perjuangan..
Betapa indah engkau ku ingat sekarang, betapa sulit engkau kulalui dulu. Benar kata orang indah pada masanya.
Ibu terimakasih atas doamu...
Ayah terimakasih atas usahamu..
Hingga anakmu kini menjadi seseorang
Semoga Allah SWT membalasnya.