Dear Steemian Friend's.!!!
Selamat sore menjelang senja, izin kan ku kembali bercerita tentang seoarang anak kecil hidup sibatang kara, postingan ku yang kemarin aku tidak berunjung dan tidak berukur. Maka sekarang aku ingin lanjut bercerita tanpa perbandingan tolak ukur.
Anak kecil yang hidup sendiri dalam kepedihan, dia berjuang sendiri tanpa ada tau dan tiada satu pun yang peduli dengan teriakan dia. Terbawa arus sungai, terseret hingga ketepian, alam sudah mulai tidak bersahabat dengan dia, burung-burung yang berkicau dan bernyanyi, tatapan tanpa keditipan pada seorang anak yang hidup sendiri di tengah hutan.
Dia mulai bangkit mencari dimana sudah orang tua nya, tidak tau siapa Ayah dan Ibu. Anak itu hidup sendiri dan dia menjadi korban dari napsu orang tua nya dulu, sehingga dia anak yang tidak bersalah seakan-akan alam pun ikut marah terhadap orang tua nya karena telah melantar kan nya di dalam hutan.
Napsu yang tidak dapat di tahan, manusia bagaikan bintang, sudah mendapatkan kenikmatan tapi si anak yang tidak bersalah menjadi korban. Mulai berukur dari ke hati ke hati, senja menyapa salam hangat kepada kalian yang membaca ini cerita.
Jika kalian bertanya SIAPA DIA, aku pun tidak tau siapa. Karena ini hanya cerita fiktif belaka !!!