Saya adalah seorang yang memiliki kepribadian ambivert. Ambivert ini adalah salah satu kepribadian manusia yang bila diterjemahkan merupakan perpaduan dari pribadi introvert dan ekstrovert. Kalau kalian memahami bahwa seorang yang memiliki kepribadian introvert merupakan orang yang lebih menghindari interaksi sosial dan sebaliknya bila kalian memiliki kepribadian ekstrovert, nah.. saya berada ditengah-tengahnya. Terkadang bisa sangat menghindari keramaian dan lebih memilih menyendiri. Namun terkadang juga malah saya bosan menyendiri. Bukan bosan atas kesendirian ya, itu hal yang berbeda bagi yang paham maksud saya.
Begitupun cara saya bersikap pada keluarga dan sanak saudara. Terkadang saya bisa begitu santai ketika menghadiri acara keluarga ataupun ngumpul bareng, berdiskusi tanpa bosan. Namun, terkadang ketika mood saya sedang buruk, saya akan merasa stress bila berada di keramaian. Saya akan duduk di pojokan menikmati suasana dan menganggap di sekeliling saya tidak ada orang lain selain saya sendiri.
Atau saya lebih memilih menganalisa kepribadian semua orang yang berada di sekeliling saya. Ya.. saya menganggap menganalisa itu adalah permainan yang paling menyenangkan. Kita bisa mengkategorikan sifat dan kepribadian seseorang ke dalam kotak permainan kita, dan ke depannya kita akan memperlakukan mereka sesuai dengan karakter yang mereka miliki. Bahkan, bila diperlukan kita bisa memainkan emosi seseorang hingga dalam waktu bersamaan dia bisa merasa senang dan sepersekian detik kemudian merasa marah atau sedih. Tapi jangan pernah melakukan hal tersebut kecuali terpaksa. Karena saya biasa melakukannya untuk exit point saja ketika terjebak dalam perdebatan. Haha!
Beberapa minggu belakangan ini, saya lebih memilih menghabiskan waktu dengan adik-adik dan sepupu saya, bukan sebagai pencitraan bahwa saya cinta keluarga, tapi karena memang saya sadar bahwa seburuk apapun hubungan kita terhadap keluarga, tempat kita kembali adalah bersama keluarga. Apalagi kalau ditraktir, keluarga are numero uno lah pokoknya.
Makanya malam minggu saya habiskan dengan bersantai di salah satu warung kopi bersama keluarga. Banyak hal sebenarnya yang bisa kita dapatkan dari berkumpul, seperti saling memahami, bahkan banyak ide-ide yang muncul ketika kita berkumpul bersama. Saya sempat mengutarakan keinginan saya untuk memiliki sebuah café yang menawarkan kenyamanan dan privasi kepada pengunjung.
Dan di luar ekspektasi saya, salah satu dari mereka malah menawarkan untuk suatu saat bisa membuat perusahaan keluarga. Dari percakapan tersebut, kita malah sudah merancang strukturnya, nanti ada yang menjadi manajer, ada yang menjadi akuntan, bahkan ada yang ditunjuk sebagai Pak Ogah yang suka minta “gopek” setiap ketemu orang. Tentunya saya mendapat bagian menjadi salah satu manajernya, dan sepupu yang masih kecil-kecil mendapat bagian jadi Pak Ogahnya. Tapi apapun jabatan yang didapat, bukan itu inti dari diskusi ini. Saya hanya ingin merasakan bagaimana seorang ambivert bisa berjuang mengendalikan ego dan emosinya, hanya dengan mencoba membuka hati secara perlahan.
Begitupun seorang introvert yang harus berjuang untuk menerima seorang ekstrovert, sebaliknya seorang ekstrovert juga seharusnya membantu seorang introvert dalam memahami mereka. Kenapa saya menjadi sok tahu? Karena saya berada diantara keduanya, dan merasakan pula kedua hal tersebut.