ternyata segala sesuatu tidak semudah yang kita bayangkan ya Celutuk seorang rekan newbie yang baru sebulan bergabung di steemit.
Kalimat itu terlintas ketika aku melewati jembatan Kuta Blang yang telah rampung. Beberapa perahu getek penyeberangan yang sebelumnya menjadi alternatif utama untuk mempersingkat waktu masih terlihat dipermukaan air yang kecoklat-coklatan itu, tempat yang biasanya riuh dengan orang-orang hilir mudik tiba-tiba menjadi sepi seperti rumah tak bertuan.
Awak kei lage biasa lom Bang Halim eeee, kajeut jak keumeukuep anoe lom, hahahahaaa...
Teriak seorang kawan sambil melambai ke arah ku dengan logat Aceh yang kental. Aku membalas lambaiannya lewat kaca mobil yang kuturunkan separuh.
Pajôh ata yang ka na ilee Balas ku tak kalah kental hahahaaa...
Aku sedikit memperlambat laju mobil dipertengahan jembatan yang baru selesai awal tahun kemarin, Bias temaram senja membuat perdu bambu tempat tambatan perahu penyeberangan itu kelihatan pucat kemerah-merahan.
Obrolan sore tadi dengan teman steemit mengusik alam fikirku.
Untuk apa mengeluh?
Bukankah kenyataan ini hanya cara alam mempermainkan kita? Nikmati saja, seperti sahabatku yang mengolok-olok keadaan dengan riangnya.
Mungkin kawan steemitku merasa para senior tidak memperdulikan postingannya, Lalu dia khawatir suatu saat akan menertawakannya. Tapi tahukah kita bahwa, bila kenyataan itu bisa kita nikmati, maka kita telah memenangkan setengah babak tanpa bertanding.
Newbies...
Tidak ada yang perlu kita khawatirkan dengan wallet yang masih minim.
Bila kita tidak mampu memberikan kebaikan pada orang lain dengan kekayaan kita, Maka berilah mereka kebaikan dengan senyum dan wajah yang berseri.
Bukankah hanya badut yang bisa membuat manusia terbang ke awan
Keep smile guys...