Baru saja saya membaca tulisan mengenai pernyataan salah seorang rektor yang sempat heboh tempo hari mengenai kebiasaan seorang mahasiswa yang sering nongkrong di warung kopi dan cafe-cafe sehingga akan melahirkan generasi pengemis.
Menarik memang melihat bagaimana fenomena nongkrong di warung kopi menjadi kebiasaan hampir setiap lapisan masyarakat, tidak terkecuali mahasiswa yang konon katanya agent of change. Kadang aktifitas kampus yang sangat padat manjadikan para mahasiswa memerlukan waktu luang dan istirahat untuk sekedar menikmati secangkir kopi sambil berdiskusi tentang banyak topik, tak jarang pula kadang sudah menjadi kebiasan dan keharusan.
Posisi saya dalam masalah ini adalah tidak mendukung 100% pendapat seperti pada tulisannya, juga tidak 100% mengamini pernyataan salah satu rektor tersebut.
Warung kopi, sudah menjadi laboratorium sosial bagi masyarakat kita, kadang pula, warung kopi merupakan tempat yang wajib dikunjungi satu hari minimal sekali. Ini bukan lagi soal menikmati kopi, kebiasaan ini sudah bergeser menjadi gaya hidup, kadang kita ke warung kopi bukan sekedar mencari kopi enak, tapi hanya sekedar nongkrong dan menghabiskan waktu.
Tipe pengunjung warung kopi atau cafe
Setidaknya ada tiga tipe pengunjung warung kopi atau cafe yang sering saya lihat.
Pengunjung rutin yang hanya menghabiskan waktu bersama rekan-rekannya.
Pengunjung tipe ini menjadikan cafe atau warung kopi sebagi tempat nongkrong dan bercengkrama bersama rekan-rekan mereka, topik yang dibahas biasanya hampir selalu sama.Pengunjung rutin namun sendiri.
Tipe pengunjung ini ada dua macam, 1). Ketagihan online, baik game online ataupun media sosial dan 2). Karena kebutuhan kerja.
Pengunjung warung kopi ditinjau dari tujuannya
Dilihat dari tujuan seseorang datang ke warung kopi, ini bisa beragam. Jauh-jauh hari sebelum Steemit dikenal banyak orang seperti saat ini, cafe-cafe atau warung kopi yang menyediakan akses internet juga sering digunakan oleh mereka-mereka yang secara lahiriah seperti orang yang kerjanya hanya nongkrong dan menghabiskan waktu seharian tidak berguna di warung kopi, itu kalau dilihat dari segi lahiriah, namun kenyataanya tidaklah demikian, mereka sedang bekerja, sebagian ada yang sedang menggarap proyek design grafis dari klien di Australia, ada juga yang sedang mengembangkan aplikasi untuk klien yang di tinggalnya lintas benua.
Ada istilah dalam pekerjaan yang sedang ngetrend sekarang ini yaitu Kerja Remote dan Digital Nomad. Kerja remote adalah sistem kerja yang tidak mengharuskan seorang untuk hadir di kantor dalam ruang persegi empat lalu duduk manis mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Mereka bisa bekerja di mana saja asalkan ada Internet dan pekerjaan mereka selesai sesuai target serta deadline yang ditetapkan dan mereka dihargai berdasarkan prestasi yang diraih, biasa dikenal meritokrasi.
Digital Nomad biasanya suka berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain, dari satu benua ke benua lagi, tempat yang paling mereka gandrungi untuk melakukan pekerjaan mereka adalah cafe-cafe dengan akses internet yang memadai dan cepat tentunya. Keduanya sering nongkrong di warung kopi dan cafe-cafe, dan mereka bukanlah pengemis, melainkan para profesional yang bekerja dengan target yang jelas.
Lalu sekarang hadir Steemit dengan beragam konten yang dihadirkan oleh para Steemian dalam platform ini, jelas saja warung kopi dengan fasilitas wi-fi akan menjadi tempat nongkrong bagi sahabat Steemian.
Kesimpulan
Intinya adalah bagaimana melihat dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar dan menghasilkan sesuatu yang berguna. Masih banyak adik-adik kita yang tidak mengetahui perihal Steemit, sehingga aktifitas online mereka hanya sebatas pada game online atau hanya sekedar nonton video lucu di Internet. Waktu yang dihabiskan untuk online dan nongkrong setidaknya dapat digunakan untuk membuat konten di platform Steemit, agar kedepan kita tidak menjadi bangsa pengemis.