Well, aku kira menjadi seorang pahlawan bagi anak-anak sangat mudah, nyaman, dan hanya memiliki rasa gemas juga bahagia. Namun...setelah melewati beberapa hari di CCR 2018 (Camp Ceria Ramadan 2018), aku benar-benar menguras tenaga menghadapi mereka. Ternyata tidak mudah menghadapi satu pun dari mereka. Setiap mereka memiliki karakteristik yang berbeda, hingga aku harus menyikapinya dengan berbagai cara agar mereka merasa nyaman, tentram dan ceria.
Jujur pengalaman menjadi mentor bagi anak-anak di usia mereka yang super aktif aku kewalahan menghadapinya. Apalagi menjadi mentor adalah pengalaman pertama yang tak pernah terlintas di benakku.
Sebenarnya aku ingin menyerah setelah sebuah musibah yang nyaris menghilangkan nyawaku. Sebuah mobil Avanza Xenia melaju dengan cepat tepat saat aku berlari mengejar salah satu peserta CCR. Alhamdulillah, Allah menyelamatkanku dengan cara-Nya yang sangat lembut nan sejuk. Sang pengemudi memaklumi atas kecerobohanku dan seorang bapak yang mengendarai becak membantuku untuk mengejar jejak salah satu peserta CCR.
Andai saja mobil tersebut menerobosku? Apa jadinya aku? Mungkin... keluargaku harus mempersiapkan segala kebutuhan bagi seorang jenazah yang siap dikebumikan. Oh, tak pernah terbayang olehku akan kembali ke pangkuan-Nya secepat itu. Jujur, aku belum siap. Masih banyak yang harus kulakukan demi menggapai surga-Nya.
Well, akan kuceritakan kronologi kejadian ini. Sebut nama anak itu Romeo. Romeo anak yang paling sukar untuk dimengerti dan dipahami oleh para mentor-mentor CCR. Jarang berkomunikasi dan lebih menyukai kesendirian membuat kami bingung dan kewalahan menghadapinya. Sempat terpikir olehku bagaimana cara orang tuanya menghadapinya. Sudahlah...biarkan ia berkarya dengan caranya.
Contoh, di saat Romeo menggunakan handphone pada saat aktivitas sedang berlangsung. Aku dan para mentor telah membujuknya untuk memberikan handphone tersebut kepada siapa saja yang ia sukai. Tapi berbagai rayuan dan gombal ala para mentor tidak dapat mengindahkannya. Alhasil, kami gagal. Kami gagal? Tidak! Aku tetap membujuknya sampai kejadian itu terjadi.
Aku dikenal sebagai seorang Kakak mentor CCR yang memiliki suara yang lengking dan cerewet. Aku tidak menyalahkan mereka mengatakan hal tersebut yang sedikit menyinggung perasaan, hehehe. Tapi begitulah aku. Aku tetap membujuk Romeo untuk kembali ke Masjid Taqwa meski harus dengan sedikit paksaan. Alhasil, dua hari yang lalu aku dan Romeo menjadi pusat perhatian di jalan raya.
(Sosok Romeo CCR 2018)
Kurengkuh kembali Romeo dengan berbagai cara. Aku takut kehilangannya. Tanggung jawabku sebagai mentor salah satunya adalah menjaganya. Bagaimana jika ia menghilang di tengah keramaian kota? Kemana ia akan pergi? Aduh...aku tak dapat memikirkannya. Alhamdulillah, aku berhasil membujuk dan membawanya pulang dengan sebuah rayuan 'boleh main game'!
Huh, sebenarnya keputusan tersebut jelas tidak adil dan membuat anak-anak lain memprotesinya. Namun aku memberi pengertian yang mudah dicerna oleh mereka agar dapat memaklumi situasi ini.
Aku merasa sebagai seorang pahlawan di hari itu. Di saat para mentor lain tidak dapat mengendalikan Romeo, aku berhasil melakukannya! Mungkin bagi kalian pengalaman ini sangat sederhana, namun aku bahagia.