Mau mati tertawa rasanya ketika ada yang bertanya apakah benar saya adalah penulis porno yang suka menulis di majalah porno? Hedeh, saya tidak marah, malah mau tertawa. Sungguh sangat dimaklumi, apalagi mengingat negeri kita ini masih banyak yang malas membaca dan sedikit saja yang benar mau belajar untuk menggali ilmu. Wajar kalau dianggap demikian, apalagi jika tidak pernah membaca tulisan saya sampai habis, cuma baca judulnya saja. Jadi ketahuan, kan?! Ha!
Buku ini diluncurkan oleh Gus Shalah (adik Gus Dur) dan Pak Kiky Syahnakry. Munkinkah mereka mau meluncurkan buku porno atau tulisan penulis porno? Sumber: https://bilikml.wordpress.com
Bukan sekali dua kali orang berasumsi dan beranggapan demikian, dan tentunya ini bukan masalah bagi saya pribadi. Yang jadi masalah adalah ini adalah bukti bahwa negeri kita sedang menghadapi masalah, di mana orang cenderung berpikiran negatif dan cepat sekali mengambil kesimpulan berdasarkan asumsi dan persepsi yang diambil bukan dari penelitian/pembelajaran bahkan bukan juga dari membaca dengan baik dan benar. Ini sangat menyedihkan, karena tentunya akan membuat negeri menjadi sulit sekali untuk maju, persepsi negatif tidak akan membantu negeri menjadi lebih baik, malah akan membuat semakin mundur dan terbelakang.
Salah satu contohnya adalah tulisan yang dibuat oleh seorang dokter yang berjudul: “Mariska Lubis, Ratu Seks Indonesia”. Tentunya kalau yang tidak membaca pasti akan berpikir negatif tentang saya, padahal yang menulisnya adalah seorang dokter muda dan tulisan tersebut dibuat untuk majalah sains yang diedarkan di lingkungan dokter dan penggiat kesehatan. Isinya pun adalah wawancara dia dengan saya, yang tentunya seputar pemikiran dan masalah seks serta pencarian solusi atas berbagai masalah sosial serta kesehatan yang ada. Jadinya, tertawa sendiri kalau ada yang kemudian terus langsung menilai, karena pasti ketahuan tidak membacanya.
Seks bagi saya bukanlah sesuatu yang porno dan tabu atau negatif sebab seks adalah anugerah yang diberikan Allah yang patut dihormati dan dihargai. Seks menjadi porno dan tabu karena kita sendiri yang berpikir dan menilainya demikian sehingga tentunya sulit untuk bisa menghormati dan menghargai seks itu sendiri, walaupun sadar penuh bahwa seks itu adalah anugerah dari Allah. Tanpa alat kelamin, hormon seksual, dan bahkan hasrat dan dorongan seksual, mana mungkin kita bisa memiliki keturunan?! Meskipun saat ini teknologi sedemikian canggih sehingga kita bisa punya anak tanpa melakukan hubungan seksual, lantas apakah kemudian kita harus mengabaikan kodrat kita sebagai manusia yang memang diberikan anugerah untuk memiliki keturunan lewat hubungan seksual? Kenapa tidak boleh dipelajari? Apakah kalau dibiarkan saja begitu maka tidak akan terjadi masalah seksual seperti sekarang ini? Apa hanya lewat perintah-perintah dan larangan tanpa ada penjelasan dan pendidikan yang benar dan jelas maka orang bisa mengerti?!
Saya tidak setuju juga dengan segala hal yang berbau pornografi, tetapi bukan berarti kemudian kita juga harus kemudian menutup mata dan telinga kita dengan tidak mencari solusi yang tepat mengatasi masalah ini. Belajar dari sejarah bahwa memang manusia tidak semudah itu bisa mengendalikan diri dan mengontrol nafsu serta emosinya sendiri apalagi jika tidak memiliki pengetahuan yang cukup dan mendalam. Mereka yang sudah tahu resiko dan akibatnya saja bisa tetap tidak mampu mengendalikan diri, apalagi yang tidak tahu? Lagipula, jika kita terus menerus naif akan hal ini, maka akan semakin sulit untuk mengatasi masalah seks, dan yang ada kita sendiri yang akhirnya akan pusing sendiri.
Sebagai salah satu contohnya adalah masalah HIV dan AIDS, di mana ini menjadi penyakit yang dianggap aib dan memalukan, dan selalu saja dianggap sebagai akibat dari perbuatan terlarang. Bagaimana dengan nasib anak-anak yang tertular penyakit ini? Mereka tidak tahu menahu dan tidak pernah berbuat salah, kenapa mereka juga disingkirkan dan bahkan ikut dihujat? Yang parahnya lagi, lantas kemudian ditutupi, bukannya dibantu pengobatan malah ditutupi sehingga bagaimana mau mengobati penyakit bila ditutupi? Repot, kan? Kalau menular ke mana-mana, lantas siapa lagi yang harus dituding dan disalahkan?!
Begitu juga dengan penyebaran pekerja komersial yang sekarang sudah tidak karuan lagi, dulu masih bisa nih dilakukan pemeriksaan secara berkala, dan diberikan obat-obatan serta penyuluhan. Tidak bisalah serta merta mereka berhenti bekerja hanya dalam waktu singkat, kita pun untuk mengubah kebiasaan buruk sulit, kenapa kita memaksa orang untuk bisa segera berubah? Nah sekarang ketika sudah terlalu menyebar ke mana-mana, lantas siapa yang bisa membantu?! Saya sampai pusing bagaimana melakukan pendataan yang jelas agar bisa diatasi masalah penyebaran penyakit menular akibat masalah seks ini. Jadinya ribet sendiri, jangankan mau membantu memberikan penyuluhan, tahu mereka di mana saja susah. Toh menangkap dan memenjarakan dan menghukum mereka juga tidak berarti masalah selesai. Selama masih ada pelanggan, tetap saja ada penjual, kenapa para pelanggannya ini tetap dibiarkan bebas?!
Belum lagi soal kasus perilaku seksual yang sudah tidak normal, dan ini juga banyak sekali akibat salah didik. Contohnya saja orang yang suka sekali mengintip orang lain saat berhubungan seksual, mandi, atau lain sebagainya untuk memuaskan hasrat seksualnya. Gila? Ya memang sudah tidak normal, tapi kebanyakan dari mereka ini menjadi seperti itu karena salah didik! Ketika mereka remaja, mereka dibuat takut dan ditakut-takuti tentang seks, apalagi kalau ketahuan sedang nonton atau baca majalah porno. Bukannya diajak diskusi dan diberikan pengetahuan, yang ada malah akhirnya mereka sembunyi-sembunyi dan menikmati kepuasan dengan cara sembunyi-sembunyi ini. Mau sampai kapan keadaan ini terus berlanjut?!
Yah, ini sih sekedar desah di malam minggu saja. Jujur saja, saya sudah bosan dengan topik ini karena pada akhirnya percuma saja bicara panjang kali lebar pun. Semua sangat tergantung pada diri kita sendiri, mau atau tidak belajar untuk mengontrol pikiran kita sendiri. Selama masih terus saja lebih suka menyalahkan setan, orang lain, dan menuding sana sini, tetapi masih terlalu takut untuk bercermin pada diri sendiri dan mengakui kebenaran, ya mau bagaimana? Yang penting saya sudah melakukan kewajiban yaitu memberikan pengetahuan dan wawasan, selebihnya silahkan tanggung jawab masing-masing saja dan jangan mengeluh atau marah jika kena akibatnya sendiri, ya, kan?! Mau dituduh sebagai penulis porno di majalah porno juga tak masalah, saya malah terima kasih karena jadi diberikan kesempatan untuk menulis dan berbagi lagi. Saya yang enak kok, entah bagaimana yang menuduh. Bagaimana nanti penilaian dari Allah terhadap saya dan yang menuduh ya itu sepeuhnya hak Yang Maha Kuasa. Hehehe….
Bandung, 12 Mei 2018
Salam hangat selalu,
Mariska Lubis