Jam Delapan pagi lewat beberapa puluh menit, beberapa perempuan-perempuan menuju ke arah Timur Desa, manatap Matahari pagi dengan pancaran cerah keperkasaan yang kian meninggi seiring waktu yang terus berjalan.
Tidak nampak dimukanya Polesan Bedak dan Lipstik sebagai penunjang kecantikan wajah anggun para perempuan yang hendak berpergian, namun guratan-guratan garis lelah menandakan mereka sudah berumur digurus usia.
Baju yang dikenakan jauh dari bentuk uniform, bukan Bluss bukan juga Blazer ataupun gaun fashion uptodate melainkan kaos-kaos lusuh berwarna kusam akibat terpapar terik matahari, menegaskan langit tinggi sebagai atap berteduh.
Baki anyaman rotan yang disangkutkan ke Skrop yang mereka pikul dipundak merupakan "senjata" bahwa mereka pekerja keras sementara tangan sebelahnya menenteng bekal makanan untuk memompa energi dan stamina baru dikala rehat. Langkah-langkah yang mereka ayun begitu bersemangat, meninggalkan yang dibelakang tanpa menoleh lagi. Pergi pagi diiring oleh harapan ekonomi, menjelang siang pulang sejenak dan pergi lagi.
Mereka Perempuan-perempuan Perkasa berjuang layaknya Lelaki, tidak ada gengsi namun perlu energi ekstra untuk dapat mendulang harapan ekonomi yang mengalir dalam air Sungai Krueng Peusangan. Meninggalkan keteduhan dan kenyaman rumah setelah kewajiban mereka sebagai Istri dan Ibu terpenuhi lalu menyusul Suami mendulang rezeki ataupun untuk Menafkahi diri.
Dipinggiran sungai menunggu perahu-perahu tambang, siap mengarungi arus sungai dan mengangkut lansiran buliran halus pasir-pasir kedaratan. Sebagian lagi mereka para Perempuan-perempuan Perkasa melangsir pasir didalam air menggunakan Baki yang terus mereka junjung dikepala hingga kedaratan menanti pembeli.
Lewat petang mereka pulang membawa pundi-pundi perjuangan seharian bagi yang terbeli keletihannya. Adakalanya keletihan terbayar dengan mimpi-mimpi dimalam hening yang melelapkan dengan kodratnya sebagai Perempuan.
Mentari pagi menyongsong langit, kembali mereka menjelma menjadi Perempuan-perempuan Perkasa.