BAGI saya senjata itu bukan barang asing, apalagi mendengar suaranya. Tentu pembaca masih ingat tanggal 3 Mei 1999, air mata dan darah tumpah di Simpang KKA, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Saya ketika itu menjadi salah bocah selamat dari terjangan timah panas pasukan TNI.
Di situlah awal mula, letusan senjata api bergemuruh di telinga saya. Sedih memang ketika mengingatnya, namun itulah masa lalu. Dengan ada masa lalu, maka beginilah hasilnya di masa sekarang. Semua itu ada hikmahnya.
Sejarah senjata bagi saya kemudian berlalu, namun saya tidak menjadi bagian dari aktor-aktor pemegang senjata "illegal" ketika Aceh didera konflik bersenjata kala itu hingga damai tahun 2005.
Baru sekarang, senjata api itu kembali hadir dalam bentuk lain dalam kehidupan saya. Siang, kawan saya mengajak saya latihan menembak di lapangan tembak Detasmen Artileri Pertahan Udara (Arhanud) 001 Kodam Iskandar Muda, Pulo Rungkom, Dewantara, Aceh Utara.
Usai menembak hasilnya apa, tiga kali putaran hanya putaran pertama mendapat hasil mendekati sasaran target yaitu kena di kolom nomor 5. Seterusnya sasaran hanya sisi kanan sasaran target, bawah dan atas. Payah memang dalam membidik, apalagi jarak tembak mencapai 100 meter. Apalagi saya pemula betul, karena baru itu menembak.
Kawan saya seperti
juga tidak bagus-bagus amat hasilnya dengan saya. Tapi inilah pengalaman pertama kami.