PERNAH merasa dicurangi oknum pedagang? Harga puluhan ribu ditagih ratusan ribu? Mau ngelak kita sudah terlanjur minum atau makan. Pernah? Kalau pernah, berarti kita senasib. Satu waktu, saya dan keluarga singgah makan malam, di sebuah warung makan, di seputaran puncak Gunung Seulawah, Aceh. Malam itu, kami dalam perjalanan pulang dari Banda Aceh menuju Aceh Timur. Target makan malam di kawasan Groeng-Groeng, Sigli, tak terkejar lantaran cuaca buruk. Hujan lebat disertai kabut membuat nyali saya ciut, tidak berani tancap gas saat menaiki Seulawah. Alhasil, masa tempuh molor dan anak-anak merasa sudah lapar sebelum sampai ke Sigli. Dalam guyuran hujan lebat, kami singgah di sebuah rumah makan, di kawasan puncak Seulawah. Saya masih ingat persis nama rumah makan itu, tapi demi kenyamanan identitasnya saya rahasiakan. Singkat cerita, kami sekeluarga makan di warung makan tersebut. Saya sendiri juga memesan satu espresso untuk pengusir dingin sekaligus penyangga mata yang mulai mengantuk. Kami makan menu biasa-biasa saja. Paling mewah ayam potong. Maklum, itu warung nasi biasa. Bukan restoran. Tapi, harga menunya melebihi harga makanan di hotel berbintang. Saya membayar hampir tujuh ratus ribu rupiah, untuk lima orang, termasuk tiga anak-anak. Saya kemudian, minta diberikan bill berisi rincian makanan dan minuman yang kami makan. Tapi, yang diberikan kemudian, cuma secarik kertas buku notes berisi catatan jumlah total uang yang saya bayarkan, ditulis dengan pulpen tinta biru. Melihat bill model begini, saya tersenyum saja. Kecurigaan saya bahwa pihak warung telah mencurangi harga, kian kuat. Tapi, saya tidak melakukan komplein. Bahkan, setelah saya minta diberikan bill diberikan faktur jadi-jadian itu, juga tidak saya protes sama sekali. Toh, kami singgah di situ atas kemauan sendiri. Namun, warung itu saya tanda sampai kapanpun. Tentu bukan karena uang, tapi karena mereka curang.
Pengalaman pahit sekitar dua bulan lalu ini, terlintas kembali di pikiran saat membaca tulisan grafitti di dinding Zwin Coffee, Idi, hari ini. Dan tulisan ini pun terinspirasi dari grafitti itu. Bunyinya; Koffie Mantep. Harganya Djoedjoer. Sidik punya sidik, rupanya Owner Zwin Coffee, juga sering ketiban sial dicurangi oknum pedagang curang. Teranyar, Ia dan kawan-kawan mengaku merasa 'diperas' saat makan sate di salah satu warung makan dalam kabupaten Bireun, baru-baru ini.
"Jadi, pesan di grafiti ini semacam pakta integritas kami sekaligus jaminan bahwa harga menu di Zwin Coffee tidak curang. Konsumen, baik langganan atau bukan, silakan makan dan minum sesuai selera, harganya tetap Djoedjoer (jujur)" garansi
. Zwin Coffee adalah sebuah warung kopi modern di pinggir Jalan Medan-Banda Aceh, dekat jembatan Idi Rayeuk, Aceh Timur. Warung ini buka setiap hari,mulai jam 8 pagi hingga jam 03:00 dinihari. Menu andalannya kopi arabika gayo spesialiti, jus dan mie Aceh.
Me and 
ENGLISH
When Price Forced to Lying
Ever felt cheated merchants? Price tens of thousands but billed hundreds of thousands? Want to refuse to make the payment, the menu is already we drink or we eat. Ever? If ever, we have a same fate. One day, my family and I stopped for dinner, at a food stall around the summit of Mount Seulawah, Aceh. That night, we were on our way home from Banda Aceh to East Aceh. The dinner plan in Groeng-Groeng, Sigli, was failed because of bad weather. Heavy rain with thick fog, made me not dare to step on the gas pedal deeper, while climbing Seulawah. As a result, the children were hungry on the way and we were forced to find somewhere to eat before getting to Sigli. In the rain, we stopped at a restaurant, at the top of Seulawah. I still remember exactly the name of the restaurant, but I can not call it here. Besides being unethical, it is also vulnerable to demands. In short, our family ate at that food stalls. I myself also ordered an espresso for cool medicine and also eye buffer. We ate the mediocre menu. Understandably, the rice stall is also an ordinary stall. Not a fancy restaurant. But, the menu price exceeds the price of food in star hotels. I paid almost seven hundred thousand rupiah, for five people, including three children. I then asked for the bill containing the details of the food and drinks we ate. But, just given a piece of paper containing a note of the amount of money I paid, written with a blue ink pen. After being interviewed, apparently owner Zwin Coffee @ zulhamdi also several times become victims of unscrupulous merchants. Latest, he and his friends claim to feel 'squeezed' by unscrupulous satay traders in one of the food stalls in Bireun District, recently.
"So the message on this graffiti is a kind of integrity pact while ensuring the price of the menu in Zwin Coffee is not cheating.Whatever the menu of customer choice, the price remains Djoedjoer (honest)" warranty
. Zwin Coffee is a modern coffee shop on the edge of Jalan Medan-Banda Aceh, near the Idi Rayeuk bridge, East Aceh. This shop is open every day, starting at 8 am until 3 pm. Mainstay menu of arabica coffee special gayo, juice and noodles Aceh.