Sudah lebih tiga bulan saya tidak menjenguk blog saya di Steemit. Bagaimana perkembangannya, saya ketinggalan informasi. Padahal, sudah bosan untuk mengingatkan saya untuk menulis di Steemit. Namun, kali ini saya berusaha untuk kembali ke media sosial berbasis blockchain ini. Kali ini saya ingin bercerita tentang Cita-Cita.
Cita-cita adalah sebuah harapan yang sering ditanyakan kepada saya dari kecil hingga sekarang. Setiap kali cita-cita itu ditanyakan, saya selalu bingung untuk menjawabnya. Ketika TK saya ingin menjadi dokter, saat SD ingin menjadi guru, hingga SMA saya masih belum paham bercita-cita menjadi apa dan seperti apa. Cita-cita kita sering berubah seiring waktu. Bisa saja karena kita belum memahami ataupun belum mengenal apa kemampuan kita. Setiap orang pasti memiliki cita-cita yang berbeda. Karena Tuhan menciptakan makhluknya dengan segenap keunikan yang harus digali dan diasah agar bermanfaat.
Ada satu hal yang mulai saya sukai ketika menduduki bangku SMA, yaitu bergelut dengan kamera. Awalnya hanya menjadi panitia publikasi dan dokumentasi di OSIS. Namun seiring berjalannya waktu, saya menjadi tagih dan ingin mempelajari lebih dalam tentang kamera. Saya sering melihat tutorial teknis mengoperasikan kamera yang baik di youtube, namun cara ini tidak efektif membantu saya dalam proses pembelajaran.
Suatu hari saya diajak menonton film dokumenter di sebuah aula radio di Banda Aceh. Pada saat itu yayasan Aceh Documentary mengadakan pemutaran film tentang Tsunami. Di saat yang sama mereka mengumumkan bahwa Aceh Documentary akan mengadakan kompetisi film dokumenter untuk pelajar SMA dan sederajat. Lalu seorang teman mengajak saya untuk mengikuti lomba tersebut. Saya berfikir bahwa kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk saya belajar mengoperasikan kamera dengan baik dan benar.
Kami mengikuti seluruh rangkaian kompetisi itu, sampai akhirnya film kami terpilih menjadi 5 besar ide terbaik untuk diproduksi. Selama proses produksi saya mulai belajar bagaimana cara mengoperasikan kamera dengan baik. Namun karena kami selaku pemilik ide hanya fokus dalam bidang penyutradaraan, maka sedikit sekali kesempatan saya mempelajarai teknis mengoperasikan kamera. Meski sebenarnya saya tidak terlalu paham terkait teknis-teknis penyutradaraan, namun karena kami adalah tim maka teman saya yang lebih memahami soal tersebut. Sesekali pada saat proses syuting, saya coba mengambil gambar untuk film kami, dan cameramen film yang sebenarnya mengatakan bahwa saya berbakat di bidang ini hanya saja harus lebih sering dilatih. Bahkan dia mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan jika saya akan jadi kameramen dokumenter wanita pertama di yayasan Aceh Documentary. Kalimat itulah yang mengetuk hati saya untuk belajar lebih giat dan berusaha lebih keras.
Jika setiap sutradara bercita-cita filmnya ditayangkan di bioskop besar dan dinonton oleh jutaan orang, begitupun dengan saya. Saya juga menginginkan film saya itu dinonton oleh banyak orang, diputar di bioskop-bioskop di seluruh daerah di Indonesia. Namun ada satu cita-cita yang saya harapkan untuk benar-benar terjadi yaitu keliling dunia dengan film. Saya ingin sekali berkeliling dunia merekam dan mengabadikan setiap detik perjalanan saya dimanapun. Bahkan saya berharap dapat membawa keindahan Indonesia melalui karya saya dengan menduniakan Indonesia lewat lensa.