
Sebelas tahun lalu, tepatnya tanggal 3 September 2007 kita telah memupuk janji yang sakral. Janji yang mengubah hidup kita dan semua cerita tentangnya. Sejak 3 September sebelas tahun lalu, segala kebutuhanmu menjadi tanggung jawabku. Bukan beberapa orang di sekitar kita saksinya. Tapi Allah. Saksi dari segala saksi.
Tak terhitung lagi seberapa banyak cerita hidup yang kita lewati setelah itu. Ada rasa pahit juga manis dalam biduk rumah tangga kita. Kadangkala aku kelewat keras hati dan enggan mengalah hingga mata indahmu itu berair dan menahan perih.
Pernah juga pada titik dan derajat tertentu aku mendadak puitis dan mengirim puisi berserta setangkai mawar merah. Intinya segala lika-liku hidup telah kita lewati.
Saya kira cerita cinta kita tak semulus karya yang diceritakan penulis ternama. Barangkali kisah kita hanya sampah daur ulang yang sangat sangat tak layak dibuatkan film. Tetapi tahukah kamu sayang, kamu adalah perempuan yang selalu menyulap marahku menjadi teduh dengan senyum itu. Kamu adalah wujud untuk segala doa-doa baik yang terijabahkan.

Ada banyak alasan seseorang jatuh cinta pada pasangannya. Ada cinta yang timbul karena kelebihan dan kekurangan fisik. Ada Cinta yang muncul karena kebaikan hati dan keuletan cara berpikir. Ada juga Cinta yang lahir karena kita merasa cocok dalam banyak hal dengan pasangan kita. Tetapi kamu lebih dari itu. Kamu merangkap hampir semua alasan yang bisa membuat seseorang jatuh Cinta.
Kamu adalah alasan aku jatuh Cinta dan berani mempersuntingmu sebelas tahun lalu. Pun demikian, rasa-rasanya aku tak butuh alasan yang terlalu spesifik untuk memilihmu saat itu. Kamu begitu sederhana melihat hidup dan sebisa mungkin menutup mata atas kekuranganku. Saya kira itulah alasan hingga kisah Cinta kita bertahan dan makin indahh saja hingga hari ini.
Karena jatuh cinta, hematku, bukanlah perjanjian tentang larangan yang harus dijauhi. Bukan pula tentang aturan yang harus diikuti. Namun, jatuh cinta versiku adalah tentang menerima seseorang terhadap orang yang dicintainya. Tentang belajar ikhlas dengan segala bait yang kita rajut nanti. Saya kira kamu menyediakannya untukku. Dan, aku pun memilihmu.

Hingga hari ini kisah kita sudah berjalan sebelas tahun. Tentu saja bukan waktu yang singkat. Selama sebelas tahun itu banyak hal yang kita rasa. Asa beberapa fragmen yang barangkali terlalu filmis diingat. Dan yang lebih penting dari itu, kita telah dikaruniai seorang anak yang semoga nanti menjadi orang hebat melebihi kita.
Saya tahu, bahwa, kamu adalah sosok pendoa atas suksesnya kerja kerasku selama ini. Aku tahu betul bahwa kamu adalah titipan Allah agar aku terus mengeruk pahala sebelum ajal mengetuk. Tetapi aku pun tahu, bahwa, banyak rencana-rencana yang belum tuntas kita gapai.
Ada sejuta harap yang belum terwujud. Tetapi ingatlah, sayangku, aku tetap memperjuangkan segala hal yang ingin kita raih. Seberat apapun itu.
Saya kira kisah kita tak bisa dipercakapkan lebih panjang di sini. Karena biar bagaimanapun, kisah kita adalah kita yang punya. Kisah kita tetap rahasia yang tak perlu diumbar ke orang banyak. Bukan malu atau apalah namanya, karena bagiku kisah itu cukuplah kita yang tahu.
Biarlah kita yang jaga. Selebihnya aku hanya bisa berterima kasih padamu karena telah Setia menjadi "pakaianku" selama sebelas tahun. Selamat hari ulang tahun pernikahan kita yang ke-11, kekasih. Semoga Allah terus memberkahi keluarga kecil kita.
Aminn..!!