Ada saatnya terkadang dalam keramaian itu aku harus menyepi dan menyendiri, dan pun terkadang mereka yang lain sedang merasakan kebahagiaan. Tapi wajah ini malah terlihat kesedihan karena nasip yang aku rasakan. Itu lah aku, terlalu sering ingin menyendiri ketika berada di tengah keramaian karena memang aku ingin menyembunyi kan semua kesedihan yang menjadi beban dalam kehidupan ku.
Kepergian mu waktu itu Ayah meninggalkan banyak kenangan yang menjadi luka ketika ku kenang, karena berjuta kenangan indah bersama mu seketika berubah menjadi luka. Berharap pelukan dari mu kini hanya bisa ku rasa ketika berada di alam mimpi , melihat senyuman di rawut wajah mu yang mata sudah terpejam, dan hidung mu pun telah di tutupi dengan kapas, engkau terselimut dalam kain putih bersih dan suci. Ingin rasanya ku buka semua itu karena memang kehidupan ini sanggup tidak sanggup aku jalani tanpa ada diri mu.
Sungguh tidak pernah terpikir dan sedikit pun tidak terbisik dalam hati, engkau begitu cepat pergi meninggal kan kami semua. Takdir dari sang ilahi tak dapat di halang ketika Malik maut datang pun tidak dapat kami hadang. Seiring dengan suara azan magrib di kemundang engkau pun pergi dengan meninggal sebuah pesan “Ayah kan pergi dan tidak kan kembali lagi, karena ini takdir dari sang ilahi”. Ucapan terakhir dengan sebuah senyuman yang indah, ketika mata mu tertutup pun tidak ada terlihat rasa takut untuk menghadapi kehidupan mu di lain alam.
Belum sempat ku berikan kebahagian untuk mu tapi aku malah sering membuat mu terluka, namun engkau pergi meninggal kan semua janji manis ku yang pernah terucap di bibir ini untuk membahagia kan Ayah dan Ibu ketika ku dewasa. Cuma 19 tahun aku bisa bersama mu, baru bisa merangkak dan mengenal dunia luar tapi kehidupan ku jauh berbeda ketika hal ini terjadi, engkau pergi meninggal kan anak mu yang bermodal cuma satu kaki.
Seakan tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, tidak ada lagi prestasi yang bisa aku gapai karena baterai semangat hidup ku hanya ada pada mu. Tidak ada lagi kosa-kata yang tersimpan, telah habis sudah semua metovara untuk memperindah kata-kata. Memang terkadang kesedihan ini tidak patut aku bercerita dan bahkan aku juga berpura-pura bahagia agar mereka semua yang mengenal ku tidak pernah melihat kesedihan yang aku rasa.
Hari bahagia dengan nya kini telah menjadi kelam karena ayah telah berpindah alam, begitu cepat hal ini terjadi. Setiap saat mata ini ingin aku pejam karena berharap wajah mu terus hadir dalam setiap ilustrasi kehidupan ini, sungguh sangat perih kehidupan ini tanpa seorang ayah. Badan yang terus melangkah namun jiwa ini malah terasa mati, bukan ku mati suri tapi tidak lagi tau bagaiamana rasanya pelukan dari sosok sang Ayah.,
Tak selamanya langit bewarna kelabu dan tidak selamanya pun nasip ini harus mengadu, langkah demi langkah kini terus bergerak untuk menggapai prestasi. Jalan yang panjang dan cahaya yang kelam berubah menjadi terang karena ku masih ingin membahagiakan mu walaupu engkau sudah terbujur kaku dalam tanah yang terletak batu di kaki dan kepala mu. Batu nisan yang menjadi tanda tempat tidur aku tidak pernah ragu untuk selalu mengirim doa indah di setiap sujud ku.