Tiap ngeliat teman-teman persiapan TOEFL, rasanya terbeban kali. Untuk kalian-kalian yang mampu menaklukan 500-550 nilai TOEFL, kalian luar biasa sekali. Saya, masih seperti beberapa tahun sebelumnya, cuma mampu di test yang satunya. Dan terus berdoa, semoga ada keajaiban tiba-tiba test IELTS jadi gratisan ya kan. Smoga. Amiin :D
Fyi, TOEFL dan IELTS itu sama-sama test bahasa inggris, sama tapi tak serupa. Yang satu lebih sulit dari yang satunya? Its all depend :)
Tiap ngeliat satu per satu berangkat ke negara lain, ke benua lain, rasanya gak sabaran pengen ikutan juga. Pasti seru ketemu orang yang datang dari berbagai latar belakang, pasti asik sekali bisa belajar budaya baru di tempat baru, pasti seru jalan-jalan di negara itu. Yang terakhir, kadang memang jadi tujuan utama hehe
Tapi ya namanya manusia, pengen ini pengen itu, walaupun di lubuk hati paling dalam belum pengen keluar indonesia lagi. Baru tahun ketiga, belum habis jelajah Aceh dan Indonesia, ngopi pun masih di tempat yang sama. Masih jalan di tempat kata kawan-kawan seperjuangan. Belum saatnya.
Tapi ketika satu persatu nanya, kapan lanjut kuliah. Rasanya pengen kabur ntah kemana. Walaupun situ nanya cuma sekedar basa-basi, sekedar ngisi kekosongan pas lagi nogbrol, tapi sini bingung tingkat dewa.
Jawab gak minat, dikata gak mau belajar lagi, gak mau upgdare diri. Jawab belum tau harus kemana setelah itu, dikata gak bersyukur dengan kerjaan yang sudah ada. Dijawab ntah lah, proposal penelitian pun belum ada satu kata, dikata pura-pura tak ada, nanti menjelang penutupan eh malah udah ada nama di sana.
Perihal melanjutkan kuliah ini terkesan sepele bagi sebagian orang. Ya kalau gak minat, ya gak usah. Sebagian lagi menganggap, kalau gak sekarang, kapan lagi. Usia juga masih sangat muda *ehm
Lanjut studi? Buat apa?
Melanjutkan studi bisa dikatakan usaha mengupgrade diri, terlepas misalnya bagi akademisi untuk kenaikan pangkat. Ntah iya pun yang ini. Eh kenaikan pangkat kan juga bentuk upgrade diri ya :D
Terlalu banyak keuntungan dari melanjutkan studi, apalagi kalau mau pindah ke kota yang berbeda setidaknya, maka ilmu yang didapat tidak serta-merta tentang pendidikan, atau penelitian yang sedang dijalankan, tapi way deeper. Pengalaman yang segudang banyaknya, yang dari sana ikut membentuk karakter seseorang juga, budaya yang sangat berbeda dengan yang familiar dengan kita, setidaknya ikut membuka mata kita.. we'll see it differently, somehow.
Salah satu yang bagi sebagian orang dianggap negatif tapi saya melihatnya cukup positif adalah bagaimana masyarakat di benua biru itu way too independent, masyarakatnya cuek sekali. Terkesan acuh dan tak peduli sekitar, jika kita bandingkan dengan kebiasaan masyarakat kita yang sangat sosial. By the time, baru ngerti, cueknya mereka untuk masalah personalnya orang, g ikut campus berlebihan, tapi cukup care sebenarnya.
Ketika kembali ke kampung halaman, kebiasaan di sana ikut terbawa. Tentunya dengan tetap beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal kita. Tidak ada lagi kebiasaan yang kira-kira terlalu jauh masuk ke ranah personal seseorang. Ya walaupun kemudian akan ada pernyataan, " kamu jadi makin cuek setelah tinggal di sana" , hehe
Tidak semuanya bisa didapatkan pada saat bersamaan
Ada satu atau dua hal yang harus dikorbankan ketika kemudian kita memutuskan untuk melanjutkan studi. Bisa resign dari pekerjaan, harus menjual harta benda jika seandainya harus membawa serta keluarga, rencana-rencana masa depan yang sedang diagram harus dihentikan sesaat , dialihkan ke yang lain, atau malah dihentikan hingga studi diselesaikan di negeri seberang.
Di kampung halaman, satu dua dikorbankan. Di daerah tujuan, bisa jadi tiga empat lainnya didapatkan.
Di awal postingan, maksud hati menyampaikan uneg-uneg soal pertanyaan kapan lanjut studi ini. Apalagi di bulan-bulan sekarang, ketika pendaftaran beasiswa mulai dibuka satu persatu. Di akhir, malah berbagi pengalaman yang secara gak langsung menyatakan saya ingin keluar lagi. Semua karena sebuah pesan ditengah jam santai sambil ngumpul dengan beberapa steemian tadi, "proposal apa kabar mira?" tanyanya. Ihh
Satu hal yang smoga semua orang mau mengerti; setiap orang punya jalan hidup yang berbeda, rejeki yang berbeda. Kita bisa berencana, tapi Tuhan yang menentukan semua.
So, kapan kita jadi full time traveler part time student lagi? :D :D