Jauhilah Perbuatan yang Menjadi Sumber Segala Dosa
• Tahukah kamu dosa itu memiliki sumber-sumber?
Bak daun dan ranting yang berinduk dengan batang pohon. Layaknya kebaikan yang memiliki pokok, begitu pula dosa. Ada perbuatan-perbuatan yang menjadi dalangnya. Seperti sebuah perguruan pencak silat, pasti ada masternya.
Lalu, perbuatan apakah yang menjadi sumber dari segala dosa?
Kali ini, kami akan melampirkan tiga jenis perbuatan tersebut.
Pertama: kesombongan
Ingatkah kita hikayat iblis? Bermula dari sombonglah yang membuatnya terusir dari surga. Sombong membutakannya. Sombong menutup pancainderanya. Sombong membuatnya mengutamakan logika. Dia merasa lebih mulia dari Adam yang diciptakan dari tanah, sedang dia dari api. Bersebab itulah, dia kehilangan tempat dan mendapat kutukan dari Sang Pencipta.
Sungguh sekarang mata melihat kesombongan sudah menjadi darah daging di dunia ini. Betapa banyak orang-orang sombong berjalan di muka bumi. Salah satu bukti kesombongan itu sudah merebak, perhatikanlah ketika panggilan Sang Pencipta berkumandang, betapa sedikit orang yang memenuhinya, dan berapa banyak yang seolah tuli dan pura-pura tak mendengar?
Bukankah iblis dikatakan sombong karena tak mau sujud sebagai bentuk penghormatan kepada Adam? Dia melawan perintah Tuhannya. Lalu bagaimana dengan manusia yang tak mau bersujud kepada Rabbnya? Apakah harus dikatakan mereka ini lebih sombong dari iblis?
Tidak mau tunduk dan patuh kepada-Nya, tidak memenuhi panggilan-Nya, tidak sujud dan menyembah sebagai hamba-Nya, tidak melakukan ketaatan, tidak menunaikan kewajiban, tidak pula melaksanakan segala apa yang diperintahkan oleh-Nya, itulah kesombongan.
Merasa paling mulia, paling hebat, paling berpendidikan, paling pintar, paling berkuasa, paling tinggi, paling kaya, dan segala bentuk pengagungan diri yang seolah menjadi makhluk terbaik di hadapan manusia bak iblis yang menyangka dirinya lebih kuat dan bagus dari Adam, maka itulah sejatinya kesombongan.
Mengapa dikatakan sebagai sumber dosa?
Karena sombong melalaikan. Karena sombong membutakan: membuat seseorang lupa status dan derajatnya. Hingga dia tak lagi menjadi pengabdi bagi Tuhannya, tapi pengabdi bagi dirinya sendiri.
Karena sombong, dia merendahkan orang lain. Karena sombong dia meremehkan orang lain. Karena sombong pula dia menganggap orang kecil di matanya. Seolah, setiap sosok yang ada di depannya bukanlah apa-apa.
Bersebab itu pula dia berbangga diri di hadapan manusia, dengan sifat congkak dan angkuhnya. Seolah dirinyalah sebaik-baik manusia yang tercipta di dunia ini.
Salah satu bentuk kesombongan pula, bila hati tak mau menerima kebenaran. Itulah bentuk kesombongan yang paling sederhana.
Kedua: rakus
Sungguhlah rakus itu memang sumber perbuatan dosa. Orang-orang yang rakus terhadap dunia, dia akan melakukan berbagai cara untuk memperolehnya. Tak peduli cara halal atau tidak. Yang penting dia bisa mendapatkannya. Dia sudah gelap mata, tak mampu membedakan mana yang halal, yang boleh diambil, dan mana yang bukan haknya.
Bukankah mata kini menjadi saksi kerakusan manusia? Di mana pun memalingkan pandangan, kerakusan sudah meraja. Orang-orang rakus terhadap uang, terjadilah korupsi. Orang-orang rakus terhadap jabatan, terjadi suap-menyuap. Orang-orang rakus terhadap kekuasaan terjadilah manipulasi data dan semacamnya.
Bahkan, yang paling buruk ketika rakus ingin memiliki hak orang lain. Dari sini keburukan akan semakin menjadi: mulailah timbul sifat memaksa, egois, berlanjut kepada aniaya dan kezaliman.
Dari sifat rakus ini muncullah sifat kikir, tamak, serakah, pelit dan beragam sifat lainnya. Jangan kira apa yang kita saksikan di film: teman menjadi pengkhianat, bak serigala berbulu domba, tak ada di dunia nyata. Banyak! Sungguh banyak.
Pemimpin mengambil hak rakyatnya, suami mengambil hak anak dan istrinya, anak mangambil hak orang tuanya, teman mengambil hak temannya, bahkan tetangga mengambil hak tetangganya: itu semua dikarenakan sifat rakus dalam diri.
Salah satu tanda adanya sifat rakus dalam diri ialah enggannya berbagi kepada orang lain. Enggan untuk memberi walau ada kelebihan rezeki. Itulah bentuk rakus yang paling kecil.
Lalu, apakah bisa kita katakan pelakor atau pebinor itu rakus? Silahkan berspekulasi sendiri. Namun, kita tak bisa menyalahkan salah satu pihak. Pihak yang merayu, dan yang dirayu dua-duanya tak dibenarkan.
Berhati-hatilah terhadap sifat ini, karena rakus akan menggerogoti kebaikan dalam diri dan meninggalkan keburukan. Menghilangkan sifat hasanah lalu menyisakan sayyiah.
Ketiga: dengki
Bukankah telah sampai kepada kita kisah Qabil dan Habil. Karena dengki yang membara, Qabil menghabisi nyawa Habil, padahal saudaranya sendiri. Alangkah besar dosa yang diperbuatnya.
Walau sudah kurun waktu yang tak terhingga lamanya, sekarang kita menjadi saksi Qabil dan Habil masa kini. Bahkan, setiap hari terjadi pembunuhan seolah nyawa tak ada harganya. Suami menghabisi nyawa keluarganya, istri membunuh suaminya, tetangga sesama tetangga, adik-kakak, bahkan antar kekasih.
Karena ada dengki di hati, tak suka dengan kenikmatan yang ada pada orang lain. Hati menjadi cemburu buta, lantas cemburu yang berlebihan itu menghilangkan akal sehat sehingga melepas semua kesadaran diri.
Maka tangan menjadi ringan untuk melenyapkan nafas orang lain. Menjadi mudah untuk menghilangkan detak jantungnya. Sungguhlah itu bukan perbuatan kecil di depan Sang Pencipta.
Dengki bak api yang melalap kayu bakar. Semakin besar ia, semakin besar apinya. Dan akan semakin cepat menghanguskan segala amal kebaikan. Bila amal-amal kebaikan telah terhapus, dan amal keburukan semakin menumpuk, jadilah hati dipenuhi noda dan bercak hitam nan kelam.
Semakin gelap hati, semakin sulit cahaya masuk. Bak hutan belantara yang rimbun dan pekat, selarik sinar pun tak mampu menembusnya.
Karena hal itu, jadilah tabiatnya rusak. Perilaku menyimpang, membuat keonaran dan merugikan orang lain. Bahkan, tak segan meniru cara Qabil demi melampiaskan kedengkiannya.
Jangan sekali-kali mendengki. Bila sudah masuk ke dalamnya, sungguh akan sulit keluar. Dengki bak obat yang membuat candu, semakin larut di dalamnya semakin tenggelam dalam cengkramannya.
Bila tak senang dengan nikmat yang ada pada orang lain, walau orang itu tak dikenal, maka waspadalah hati sedang mencicipi dengki.
Demikian bahasan kali ini. Semoga kita terlepas dari tiga sifat buruk itu. Semoga selalu terjaga dan terlindungi darinya. Aamiin.