Angin bertiup ringan, kala senja menarik cahaya jingga di ketinggian cakrawala. Gumpalan awan membuka, meninggalkan semburat cahaya matahari yang mulai meredup.
Kisah sepasang kekasih, yang sedang dimabuk cinta baru saja dimulai. Alunan dendang penuh cinta dinyalakan.
Lirik lagu yang diterjemahkan, membisik di telinga, "Jangan engkau mewarnai rambutmu, walau telah memutih, jangan engkau merubah bentuk tubuhmu, meski kau merasa tak lagi sempurna, aku ingin engkau selalu seperti ini, jangan pernah berubah, karena bagiku, engkau akan selalu sempurna..."
Sekelebat ingatan tentang sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, perlahan kembali. Tatapan mata penuh gairah, tergambar dari sorot mata keduanya.
Cinta dalam diam, cinta dalam senyap, saling memandang dan menjaga. Sunggingan senyum yang merekah ikhlas dari bibir keduanya, bagaikan kelopak mawar yang merekah di taman.
Entah sedari kapan, waktu menjadi terasa begitu bermakna. Merasa kehilangan satu sama lain, bilamana tak bersinggungan walau sesaat.
Cinta yang berat sedang dibagi, pundak mulai mengeliat, "Hei...ada apa?", rasa lelah membuat pundak menjerit kesakitan, cinta yang dalam, mulai butuh penawar luka.
Mereka menemui ombak, berharap hempasannya mampu meringankan, lembutnya pasir pantai memanjakan tubuh mereka yang lelah.
Terjatuh dan mencoba bangkit bagai siklus, terjadi berulang kali, bahu yang semula sembuh, harus merasakan sakit lagi. Sungguh cinta itu terasa berat, begitu pengakuan mereka.
"Mengapa tak kau tinggalkan saja cintamu itu?...", ujarku. Serempak mereka menjawab "Cinta ini telah memeluk jiwa kami, dan akan terus seperti ini, tanpa batasan waktu..."