Foto Casey Horner - Unsplash
Pagi ini saya membaca kisah Devadatta. Ini cerita tentang kebencian, yang berujung penderitaan di dunia, dan di akhirat.
Ini memang kisah dikalangan orang-orang Budha, bahkan berkaitan dengan usaha kudeta Sang Budha. Tapi, terlepas dari apa agamanya, kisah ini mewakili bahaya membenci, yang dalam Islam juga dilarang.
“Janganlah kalian saling dengki, jangan saling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan kalian membeli suatu barang yang (akan) dibeli orang. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, tidak layak untuk saling menzhalimi, berbohong kepadanya dan acuh kepadanya. Taqwa itu ada di sini (beliau sambil menunjuk dadanya 3 kali). Cukuplah seseorang dikatakan jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Haram bagi seorang muslim dari muslim yang lainnya, darahnya, hartanya, dan harga dirinya." (HR. Muslim)
Dikisahkan, Devadatta sangat membenci Sang Budha. Penghormatan yang kerap diterima Sang Budha ternyata melukai hati Devadatta. Ia bahkan ingin sekali memimpin Sangha, komunitas Bhikku.
Kebencian dan keinginan untuk dipuji dan hasrat untuk memimpin telah membuat Devadatta merencanakan ragam siasat, dan kesemua siasat itu berujung menjatuhkan, bahkan melenyapkan Sang Budha. Namun, ketika siasat busuk itu tidak berhasil. Sang Budha sehat-sehat saja, meski kakinya sempat terluka sedikit terkena batu yang sengaja dijatuhkan suruhan Devadatta.
Ujung-ujungnya, kebencian dan ambisi membuat Devadatta jatuh sakit. Dan, kala kesadarannya pulih untuk meminta belas kasih Sang Budha, semuanya sudah terlambat. Setiba di tepi kolam, Devadatta ditelan bumi, dan akhirnya berada di neraka, membawa segenap penyesalan.
Di dunia ini ia menderita, di dunia sana ia menderita;
pelaku kejahatan menderita di kedua dunia itu.
Ia meratap ketika berpikir, "Aku telah berbuat jahat,"
dan ia akan lebih menderita lagi ketika berada di alam sengsara. By Sang Budha, Syair 17.
Photo Wilson Sanchez - Unsplash
Dalam Islam, juga dikenal penyesalan di hari kiamat, yang disebut penyesalan yang tiada berguna lagi.
Andaikata kami dahulu mau mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya kami tidaklah termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala [al-Mulk/67:10]
Dan mereka berteriak didalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan melakukan amal saleh berbeda dengan yang telah kami kerjakan” [Fâthir/35:37]
Semoga diantara kita tidak ada yang seperti Devadatta, yang karena ambisi dan ingin menguasai Sangha, akhirnya mati membawa penyesalan di tepi kolam dekat Vihara Jetavana. Kebencian itu, kata Oscar Wilde, buta, sama seperti cinta. Jadi, jangan butakan mata jiwa.
"Hatred is blind, as well as love" by Oscar Wilde