Setiap sore aku sering duduk di warung kopi pinggir jalan.
Bukan warung yang mewah, hanya meja kayu tua, gelas kaca, dan suara kendaraan lewat yang tidak pernah henti.
Tapi di sana aku belajar banyak hal yang tidak diajarkan di sekolah.
Dari abang tukang parkir, aku belajar apa arti sabar.
Dari ibu penjual gorengan, aku tahu bagaimana rasanya tetap ramah meski dagangan belum laku.
Dari bapak-bapak yang bercerita soal hidup keras, aku belajar bahwa hidup ini soal bertahan, bukan soal cepat-cepat kaya.
Kadang warung kopi adalah tempat paling jujur di dunia.
Tidak ada topeng, tidak ada gengsi.
Aku menulis ini untuk mengingatkan diriku sendiri,
bahwa kebahagiaan itu bukan soal seberapa banyak yang kita punya,
tapi seberapa dalam kita bisa menghargai hal-hal kecil —
termasuk secangkir kopi, dan percakapan tanpa syarat.