Petani umumnya di negara berkembang dalam aktivitas pertanian masih menggunakan alat-alat tradisional dalam proses bertani sampai memanen hasil pertanian. Contoh alat tradisional pertanian yang digunakan seperti, cangkul, sabit, arit, parang.
Pada Dasawarsa ini, perkembangan teknologi sudah berkembang dengan pesat, alat dan mesin semakin canggih yang diciptakan untuk memudahkan para petani dalam bertani, efektif, efisien, ekonomis dan bertujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan.
Teknologi sudah dimanfaatkan dengan sedemikan rupa oleh petani di negara maju. Salah satunya adalah pada proses menanam sampai memanen padi. Di negara-negara maju, dari penyemaian bibit/benih, pengolahan lahan, perawatan dan memanen hasil sudah menggunakan alat atau mesin berteknologi tinggi.
Seperti mesin pemotong padi pun sudah merambah ke negara sedang berkembang, seperti negara kita. Pada satu sisi kehadiran mesin pemotong padi telah membuat para petani padi lebih menguntungkan, karena tidak memakan waktu yang lama, proses sangat praktis, lebih ekonomis dari cara-cara tradisional dan kerja-kerja bantuan manusia yaitu menekan biaya yang harus dikeluarkan ketika memanen padi.
Sedangkan pada sisi lain, kehadiran mesin pemotong padi telah membuat masyarakat kehilangan pekerjaan seperti orang yang mengupah potong padi,pekerja mesin perontok padi, secara sosiologis telah ada hal yang terbenturkan akibat teknologi. Jauh berabad sebelumnya, hal demikian sudah terjadi ketika revolusi industri yang membuat para pekerja kehilangan pekerjaan karena telah digantikan oleh mesin.
Pada satu sisi, pemilik padi dan sawah diuntungkan secara upah yang lebih irit dibanding dengan cara memotong dan menggunakan mesin perontok padi. Sedangkan pada sisi lainnya, banyak petani lainnya yang bekerja serabutan dan mengupah telah kehilangan pekerjaan, perputaran uang di kampung pun akan sangat sedikit. Upah memotong padi mengalir kepada orang-orang kaya pemilik mesin pemotong padi, dimana untuk satu mesin pemotong padi sampai Rp.500-600 juta.
Pemilik modal dengan kapital dan alat-alat produksi yang dimiliki telah mengusai lahan-lahan produksi, sehingga masyarakat di negara terbelakang, negara dunia ketiga dan negara berkembang terpinggirkan dari proses produksi apapun itu, seperti pertanian. Lahan pekerjaan pada kerja dan hasil produksi pertanian selama ini dikerjakan oleh buruh, masyarakat pengupahan telah dijamah oleh pemilik modal dan alat teknologi sudah tidak bisa terhindarkan.
Namun, yang perlu diketahui laju perkembangan teknologi tidak dapat dibendung, hal ini sudah terbukti bahwa kerja-kerja yang dilakukan manusia telah tergantikan dengan kerja-kerja mesin dan teknologi. Sedangkan orang yang kehilangan pekerjaan harus beralih pada perkejaan lainnya.
Harus diketahui, masyarakat siap dan tidak siap menyambut teknologi pertanian harus menerima kenyataan, bahwa untuk kerja-kerja pertanian ke depan akan terus digantikan oleh alat dan mesin teknologi.