"Jeungki", adalah sebutan masyarakat Aceh untuk alat penumbuk beras atau jenis makanan lainnya yang perlu dihaluskan, pada zaman dulu alat ini menjadi satu alat yang sangat istimewa karena masyarakat sangat bergantung pada alat ini baik untuk menumbuk beras maupun jenis makanan lainnya.
Jeungki terdiri dari beberapa bagian ada yang bagian paling besar disebut "bak" atau ada juga yang menyebutnya "ma" dan bagian yang kecil untuk menumbuk, sering disebut "alee" dan "lusong" tempat untuk menumbuk.
Jeungki akan sangat sibuk biasanya ketika lebaran karena masyarakat akan ramai ke jeungki untuk mengolah beras menjadi tepung yang akan di olah lagi menjadi kue khas lebaran. Dan di jeungki suasana keakraban dan silaturahmi sangat kental terasa.
Akibat revolusi industri dengan hadirnya mesin mesin yang berteknologi tinggi yang lebih memudahkan maka Jeungki mulai ditinggalkan oleh masyarakat Aceh pada umumnya, dan sekarang hanya bisa kita jumpai di pelosok pelosok kampung dibeberapa daerah di Aceh.
Seperti hal nya di pedalaman Aceh khususnya Pidie yaitu di kecamatan tangse masyarakat disana masih sangat tergantung sama jeungki, karena disana masyarakat mengolah kopi menjadi bubuk itu dengan menggunakan jeungki, jadi sangat mudah kita dapatkan jeungki di daerah tersebut.