Salah satu budaya Aceh yang sudah mulai hilang tergerus zaman adalah budaya penanggalan, dalam bahasa Aceh di sebut ”Keuneunong”. Keuneunong ini biasanya menentukan keadaan Alam dan waktu untuk musim tanam, dan waktu untuk panen.
Adapun untuk menentukan keuneunong tersebut mempunyai rumus khusus yaitu = 25 – (2 x bulan masehi yang sedang berjalan) . misalnya bulan 12 disebut Keunong 1 caranya adalah = 25 – (2x12) = 1. Angka 25 dan angka perkalian 2 adalah angka konstan dalam rumus keuneunong ini.
Adapun keuneunong ini semuanya berangka ganjil dari angka 1 sampai 23 dan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan almanak luar islam. Keuneunong ini diawali dengan :
1.Keuneunong 23 dan biasanya keuneunong ini di bulan January, pada keuneunong ini biasanya padi padi diswah mulai menguning dan banyak yang patah karena angin timur yang sangat kencang.
2.Keuneunong selanjutnya adalah keuneunong 21 (21 Ra’jab). Ini adalah musim panen atau bisa juga musim khanduri blang.
3.Keuneunong 19 biasanya petani pada dekade ini mulai turun ke sawah dan mulai menggarap sawahnya.
4.Keuneunong 17 ini merupakan dekade untuk para nelayan untuk mengadakan khanduri laot karena pada Keuneunong ini merupakan musim barat dan ombak pun tidak besar.
5.Keuneunong 15 biasanya sawah sawah sudah mulai siap digarap dan benih padi mulai di tabur, sedangkan dilaut ombaknya sudah mulai besar.
6.Keuneunong 13, 11 dan 9 dan sterusnya adalah masa proses tanam padi hingga padi akan panen.
Inilah budaya penanggalan Keuneunong yang sudah mulai hilang di tengah tengah masyarakat Aceh saat ini. Saya yakin generasi baru baru sekarang ini tidak mengetahui tentang penanggalan ini. Sudah saatnya kita kembali mengenalkan hal hal seperti ini kepada generasi agar mereka tau ada penanggalan yang unik dalam masyarakat Aceh.
English
One of other culture that had been lost eroded by times is calendar. In Achenes we called it “Keuneunong”. This Keuneunong usually will be determine the nature and time in panting and cultivating.
The way to decide this keuneunong we use the formula “25 – ( 2x months now century). For example, 25 – (2x12)=1. 25 and timing 2 are the constant value in this pattern of “Keneunong”
The “keuneunong” has odd number for 1 up to 23 and this dedicated the other celendar. “keuneunong” is started by:
- Keuneunong 23 and usually this keuneunong in January, at this keuneunong usually gray rice began to turn yellow and many are broken because of the east wind is very fast.
- Keuneunong next is keuneunong 21 (21 Ra'jab). This is the harvest season or it could be the season khanduri blang.
- Keuneunong 19 usually farmers this season start to descend into the fields and start working on the fields.
- Keuneunong 17 This is a chapter for the fishermen to apply khanduri laot because in * Keuneunong * this is the west season and the waves are not big.
- Keuneunong 15 usually rice field is ready to work on and seeds of rice began in sowing, while the sea waves have begun large.
- Keuneunong 13, 11 and 9 and next is the time of the process of planting rice to rice will harvest.
This is the calender culture or “Keuneunong” which had been lost in Aceh. I am sure our new generation today doesn’t know about this culture. Now, it is time for us to go back to the positif culture and introduce to the society, so that they know that there is a unique in Aceh.