Adat dan kebudayaan sangat mencerminkan identitas suatu bangsa, bagitu pula dengan budaya Aceh, banyak hal keunikandalam budaya Aceh sehingga menjadi suatu hal yang sakral bagi masayrakat terutama budaya yang menyangkut dengan kehidupan sehari hari.
Salah satu keunikan kebudayaan masyarakat Aceh adalah prosesi adat saat mendirikan rumah, atau ada juga disaat rumahnya hendak ditempati yaitu budaya yang disebut dengan “Tanom Sikurah”. “Tanom sikurah” ini seperti halnya budaya peletakan batu pertama pada saat ini.
Acara ini diawali oleh “khanduri” , dengan mengundang “Teungku”, tetua Kampung, dan masyarakat sekitar dan berdoa bersama. Acara ini sebagai bentuk syukuran atas rumah yang baru didirikan atau rumah yang akan di bangun serta memohon kepada Allah agar di rumah baru nantinya akan diberi kedamaian dan ketenangan.
Prosesi tanom sikurah (Tanam Sikurah) ini berlangsung saat tengah malam yang hanya dilakukan oleh “Teungku” atau Imum Meunasah, yang lokasi penanamannya itu di tengah tengah rumah. Adapun sikurah yang dimaksud adalah “Kanot Tanoh” atau periuk nasi yang terbuat dari tanah yang didalamnya dimasukkan “emas” kalau tidak salah satu mayam dan perak, beras, padi dan beberapa bahan lainnya, (saya sudah lupa).
Disaat penanaman ini “Teungku” akan membacakan doa dan meminta kepada Allah agar penghuni rumah di beri keberkahan, ketenangan dan keselamatan dunia dan akhirat. Dan prosesi ini berakhir ketika mata hari terbit dengan upacara “peusijuek” (menepung tawar) seluruh bagian rumah. Jika rumah Aceh “peusijuk ini dilakukan di “tameh raja” sekalian tempat tanam “sikurah” tersebut dan semua kayu akan dipercikkan air “peusijuek” tersebut.