Karena sudah janji dengan mahasiswa untuk mengajar Antropologi Ekologi pukul tiga sore, saya memutuskan berangkat dengan sepeda motor ke kampus. Mobil yang baru di-door-smeer (istilah ini mungkin cuma ada di Aceh, maksudnya car wash),kasihan jika dibawa. Mendung sudah menggulung di langit dan rintik mulai turun.
Saya pikir biarlah nanti di jalan jika hujan benar-benar lebat mengguyur saya baru mengenakan mantel. Ternyata, dari perjalanan Blangpanyang menuju Bukit Indah hujan lebat merambat turun. Saya mencoba mencari tempat berteduh ternyata tidak ada. Satu halte bus yang terdapat di depan jalan menuju Goa Jepang tidak membantu karena tak ada kanopi pelindung di depan terasnya. Saya memilih berteduh di sebuah pohon seri (kersen atau talok/ Latin : Muntingia calabura L), dan ternyata pohon itu sama sekali tidak menahan rambatan hujan jatuh ke tanah. Di tengah hujan yang mengguyur cepat itu saya menggunakan mantel dan tentu dalam keadaan sudah kuyup.
Penebangan pohon di simpang line menuju kampus Bukit Indah Unimal. Akibatnya tak ada tempat berteduh bagi mahasiswa di saat panas dan hujan. Blessing University?
Saya tidak bisa mengandalkan untuk berteduh di bawah pohon Angsana (Bak Asan/Latin: Pterocorpus indicus). Meskipun masih banyak yang tumbuh, daunnya tidak rindang lagi karena sering dipapras. Saya melihat tak ada orang yang bisa berteduh di bawah pohon Angsana tepi jalan. Pohon-pohon itu sendiri ditanam oleh PT. Arun sebagai penghijauan jalan puluhan tahun lalu. Kini kabarnya juga akan ditebang oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe sebagai upaya pelebaran jalan. Jika itu sampai terjadi kiamat lingkungan semakin terpupuk di Lhokseumawe yang sudah terkenal defisit pohon.
Yang sangat sering melakukan pemaprasan pohon adalah PLN dan dinas terkait di pemerintahan Kota Lhokseumawe. Sayangnya pola penebangan “ranting” dilakukan dengan tidak melihat aspek estetika dan juga struktur pohon. Rata-rata pemarasan hanya berkepentingan mempertahankan aset – misalnya aset tiang dan kabel listrik PLN – dan sama sekali tidak mempertimbangkan masa depan pohon. Akibatnya kita melihat kondisi pohon yang sebagian batangnya menjorok ke jalan sedangkan di bagian lain telah pitak karena ditebangi.
Pohon Angsana yang dipapras sembarangan sehingga membuat strukturnya labil dan menjorok ke jalan.
Namun tentu bukan saja PLN yang kurang sensitif atas lingkungan hidup. Seluruh pihak seperti tidak menghargai pohon-pohon tumbuh. Di lingkungan Universitas Malikussaleh sendiri, Bukit Indah yang merupakan aset bekas Mobil Oil sendiri, yang ketika awal diserahterima masih sangat rimbun kini mulai mengalami pengundulan, baik yang dilakukan pihak kampus atau masyarakat. Kedua pihak saling berebut melakukan penebangan “hutan-hutan sekunder” di lingkungan Unimal, sehingga semakin lama semakin panas. Di kampus FISIP sendiri juga penebangan pohon-pohon tua terjadi, tanpa alasan yang jelas.
Penebangan pohon di FISIP yang tidak memiliki alasan yang jelas.
Akhirnya dalam masa kuliah Antropologi Ekologi batin saya bersuara, apakah masih ada posisi pengetahuan untuk memberikan kebaikan kepada dunia? Misalnya apakah masih penting mempelajari Antropologi Ekologi di tengah manusia-manusia yang seperti predator merusak ekologi semakin berkeliaran?
Bagi saya pengetahuan tetap memiliki derajat yang penting untuk menjaga akal dan kewarasan. Seperti yang disebut Frans Boaz – antropolog Amerika keturunan Jerman – yang merintis lahirnya kajian Antropologi Lingkungan, kajian seperti ini harus dilihat dalam konteks partikularisme historis. Maksudnya, sejarah tempatan Lhokseumawe yang masih primitif memahami lingkungan hidup ini adalah tantangan untuk mengembangkan kajian Antropologi Lingkungan ke depan.
Penggalian bukit di jalan menuju lingkungan kampus Unimal. Predatorisme lingkungan di masa damai Aceh lebih cepat dibandingkan penyelamatan ekologi.
Tentu jangan samakan Lhokseumawe dengan Bogor atau New York yang lebih matang memahami lingkungan hidup dan taman kota. Namun di situlah tantangannya, mengajarkan kematangan kepada pemerintah kota, stakeholders, dan pimpinan kampus, lainnya yang masih bayi pengetahuannya tentang lingkungan untuk semakin dewasa. Tanpa pohon kita akan sengsara.
Menanam pohon seperti ini memerlukan waktu belasan tahun untuk berkembang, tapi menebangnya cuma memerlukan waktu beberapa puluh menit saja.
Sejarah pohon kota yang sudah dilakukan sejak era kolonial atau di awal-awal kemerdekaan dengan penanaman pohon asam Jawa (Bak Mee/ Latin : Tamarindus indica) kini mulai menghilang. Padahal sebelum otonomi khusus dan proyek MoU Helsinki dilangsungkan di Aceh, pohon Asam Jawa yang menurut , pakar pertanian dari Unimal, memiliki fungsi peneduh, pengikat karbon, untuk penyakit flu, dan bumbu masak, itu masih banyak ditemukan di sela-sela kota. Kini kota pun semakin miskin tanpa pohon-pohon yang menaunginya.
14 Oktober 2017