Catatan kehidupan telah kita ukir bersama. Menjadi sejarah dalam lika liku persahabatan yang tak ada matinya. Kita masih berdiri dalam prinsip yang sama, walau telah memiliki jalan kehidupan masing-masing, kita tetap menjadi bagian kebersamaan itu dalam wujud empat sekawan yang tertulis sejak kita masih jalan bersama-sama.
Empat sekawan itu adalah aku dan ketiga temanku. Kami bertemu dengan latar belakang berbeda tetapi masih dari suku dan bangsa yang sama. Jadi, kami masih menggunakan bahasa yang sama dalam pergaulan tanpa batas namun masih dalam lindungan Allah Yang Maha Kuasa. Kami dididik dengan keberuntungan yang berbeda. Bisa dikatakan takdir kami tak sama dalam hal memburu ilmu dunia. Tetapi tak pernah menjadikan kami lupa akan kenangan bersama. Kenangan yang selalu menjadi pembeda ketika hari ini berkumpul dan bercanda tawa dalam hal apa saja.
Teringat ketika menghabiskan malam bersama. Sebuah permainan klasik menyatukan kita yang sudah lama tak berjumpa. Bukan karena jarak yang memisahkan, tetapi kesibukan dalam tanggung jawab keluarga yang membuat kita tak bisa bersua. Tertawa lepas seakan sangat puas ketika teman sedikit sengsara karena permainan itu berakhir kekalahan. Sungguh suasana malam itu membuat kami kembali muda. Tak ada beban berat seperti masa remaja dulu yang tak ada habisnya.
Kegelisahan hidup dari guratan wajah yang menua tak tampak. Rambut yang mulai menipis jadi pembeda. Ditambah dengan perut yang sudah membuncit pertanda usia tak lagi muda. Namun semua sirna karena kebahagiaan yang sudah lama tidak kami rasakan saat berkumpul bersama. Malam yang tak akan pernah dilupakan oleh kami empat sekawan.
Empat sekawan terbentuk karena persahabatan. Semoga selalu dalam ingatan dan selalu membagi kebahagiaan.
Cilacap, 28 April 2018
Salam Persahabatan
4Sekawan