Dear Puteriku,
Ayah masih tak percaya, engkau hadir di dunia ini menjadi penyejuk hati ayah dan bundamu. Mencicipi sedikit kebahagian dari surga karena tangisanmu yang saat ini selalu memecahkan keheningan malam. Membuat ayah dan bundamu selalu terjaga untuk selalu menjagamu dari kondisi tubuhmu yang belum terbiasa merasakan panas dan dinginnya dunia ini. Bahkan bundamu selalu siap siaga dikala engkau membutuhkan air susunya. Bundamu rela berkorban mengurangi waktu tidurnya demi melihatmu tumbuh sehat dan kuat. Jika ayah yang mempunyai tubuh lebih kuat dari bundamu melakukan hal itu, ayah pasti tak akan sanggup melakukannya.
Ayah masih teringat ketika bundamu meminta kepada ayah agar menemaninya ketika akan melahirkanmu. Bundamu tak mau nenek ataupun kakekmu yang menemaninya. Jujur, ayah tak sanggup melihat bundamu merasakan sakit sedahsyat itu. Namun, ayah berjanji akan menemani dan menjadi saksi perjuangan bunda melahirkanmu. Saat itu pun akhirnya tiba.
Tanggal 20 Maret 2018 di pagi hari yang masih sepi. Sebuah pesan dari bundamu datang. Bundamu mengatakan bahwa sudah saatnya ayah menemaninya untuk memperjuangkan kelahiranmu. Ayah jadi bingung dan panik. Karena saat itu ayah terpisah jarak ratusan kilometer dengan bundamu. Ayah pun masih harus berkutat dengan urusan dunia yang mengharuskan ayah terpisah jauh dengan bundamu. Tetapi saat itu ayah berjanji segera datang untuk berada di sisi bundamu. Cobaan ayah tidak hanya itu puteri kecilku. Perjalanan jauh yang ayah tempuh untuk memenuhi janji kepada bundamu memakan korban konsentrasi ayahmu. Konsentrasi ayah terpecah antara memahami rute jalan dan bundamu. Akhirnya beberapa kali ayah tersesat dan hilang arah menuju jalan yang tepat. Beruntung ayah memiliki teman sejati yang memahami segala rute perjalanan di seluruh dunia. Ayah pun selamat sampai ke tempat bundamu.
Bundamu terbaring tak berdaya dengan suara rintihan yang menggetarkan jiwa ayah. Beberapa kali terlihat menarik nafas dengan tersengal-sengal. Sembari tak pernah lupa mengelusmu walaupun masih terhalang perut tipis bundamu. Ayah datang layaknya seorang pahlawan yang akan menyelamatkan bundamu dari bahaya. Ayah tak berdaya. Ayah tak mampu berbuat apa-apa selain menjadi pelampiasan betapa sakitnya yang bundamu rasakan. Air mata ayah berkali-kali menetes mendengarkan rintihan dan jeritan bundamu yang begitu menyedihkan. Berjam-jam ayah menemani bundamu, hingga akhirnya datang anugerah dari Allah. Anugerah yang dititipkan kepada ayah dan bundamu, yaitu dirimu puteri yang kecilku.
Ayah seperti mendapatkan kebahagiaan tak terhingga dengan melihat dan mendengarmu menangis. Apalagi disaat ayah mengumandangkan adzan pertanda engkau mempunyai Tuhan yang menciptakanmu. Tangisanmu memekik semakin kencang. Ayah dan bunda terharu dan ikut menangis mendengarmu menangis.
Puteri Kecilku,
Kebahagiaan ayah dan bundamu adalah dirimu. Kebahagiaanmu adalah penyejuk ayah dan bundamu mengarungi romantika hidup ini.
Selamat datang ke dunia puteri kecilku