Akupun kembali. Kembali melakukan kebiasaan kakek moyang kami di Gayo. Menyentuh tanah dan pohon dengan perasaan.
Kembali ke alam yang terbentang luas untuk diolah dan dicintai. Bagaimana cara bercinta dengan pohon dan tanah?, dan bahasa apa yang akan kupakai?.
(Tangan petani kopi)
Tanah yang tidak datar ini membuat penduduk tanah Tinggi, Gayo, harus pandai menyiasati keadaan untuk bisa bertahan hidup.
Jauhnya akses ke tempat lain, membuat siapapun yang tinggal disini, harus belajar. Belajar berbicara dengan tanah dan tanaman.
Apalagi, hidup di Dataran Tinggi yang begitu dingin. Lengkaplah sudah. Tak heran jika siapapun yang pernah datang ke Gayo, melihat rumah penduduk yang tersebar.
Di sepanjang aliran sungai hingga ke puncak bukit. Sarung, jaket tebal adalah pakaian keseharian. Yang oleh orang pintar di kota dan mereka yang merasa bagian masyarakat modern, dianggap kolot dan terbelakang.
Tak jarang, tapi jamak. Sebagian lelaki dewasa, menyelipkan sebilah belati di pinggang sebelah kiri. Meski mereka bercelana dan jaket jeans. Kebiasaan ini masih membudaya di Gayo Lues.
Tanah, pohon dan belati. Tak ada pilihan, selain menjadi petani. Menjadi petani kopi. Kopi lah yang teruji dan terseleksi.
Teruji oleh waktu dan pasar. Sejak Belanda, bahkan sebelum itu. Kopi memenangkan kompetisi dari seleksi alam, tentang pohon apa yang akan dikomersilkan.
Akhirnya, secara uji ilmiah, Belanda menetapkan, kopi, teh dan Pinus mercusi, kentang sebagai jawara yang diterima pasar Eropa.
Dan Belanda, membuat jalan untuk itu semua. Rodi.
Tanah ini bukan warisan keluargaku. Tapi kubeli dari keringat menjadi kuli tinta sejak pra konflik Aceh hingga MoU.
Karena kemampuan uangku yang limited, kebun kopi seharga dibawah rp. 20 juta, tersedia di lereng bukit, agak terjal. Tak ada pilihan.
Menjadi petani kopi. Hahaha, tak terbayangkan semula...
Tanah, pohon, Parang, cangkul, keringat, bahkan air mata. Kisah yang terlewatkan dari lereng bukit.
Kuputuskan menjadi petani kopi bukan karena tidak sadar. Tapi dengan kesadaran penuh.
Sepertinya asyik. Tapi juga berat. Berat karena akses ke kebun bak mendaki gunung Bur ni Telong. Mendaki gunung yang kita sukai, setiap hari.
Fisik yang kuat adalah prasyarat menjadi petani kopi di Gayo. Jika fisik tak kuat, dijamin gagal. Kecuali main uang. Main uang di kebun kopi?, sogok?.
Iya, menyogok pekerja dengan uang untuk bekerja di kebun kita. Jika di kota disogok dulu baru bisa bekerja, meski honor. Di kebun sebaliknya. Orang kita bayar agar mau bekerja.
Mulailah aku menggunakan otot. Tenaga ku sendiri. Memulai dari titik nol. Membuka lahan dengan parang yang diasah tajam. Memakai cangkul yang dikikir.
Membuat lubang tanam. Kemudian memilih para gadis varitas kopi. Memilih varitas arabika gayo ini seperti memilih calon istri.
Bibit, bebet, bobot. Memilih Ateng Super, sama dengan memilih perempuan subur yang beranak banyak.
Ateng Super sudah hamil di usia tanam 18 bulan. Berbuah banyak dan berdua hijau tua. Cantik. Seimbang buah dan daun. Atau si Tim-tim yang langsing, berbuah besar dan panjang. Namun bunting di tahun ketiga paska tanam.
Tanah adalah rahim bumi. Dimana semua keluh dan kesah diterima. Disimpan dan dibesarkan, berbuah harap dan senang.
Petani memahami bahasa tanah. Akan kebutuhannya dan deritanya. Petani juga adalah dokter dari semua tanamannya.
Betapa tidak, warna kuning pada daun muda adalah bahasa kekurangan hara. Khususnya Natrium. Tanah kekurangan hara penyubur daun. Sang petani akan bisa membacanya, karena sudah saling mencintai. Berbicara dan bersentuhan bahkan membeli.
Karena setiap hari bersentuhan, saling memandang dan berbicara, terciptalah harmoni. Antara petani dan tanamannya.
Kopi ibarat anak yang dirawat dan dijaga setiap hari. Semua perkembangannya tak pernah putus dari amatan.
Pantaslah, jika petani tak pernah merasa sendiri. Meski membuat rumlah di pucuk bukit. Karena bagi mereka, tanaman adalah bagian dari hidup. Bukan makhluk mati. Tapi makhluk hidup yang selalu diajak bicara. Sebagian dari petani ini, bersahabat dengan harimau.
Sehingga kopi bagi petani adalah segalanya. Napas ekonomi. Budaya kopi. Kopi adalah sumber uang dari melahirkan hingga tunaikan rukun Islam ke lima. Naik haji.
Bagi masyarakat Gayo yang Muslim, percaya bahwa kopi itu sudah disyahadatkan. Di Islam kan. Disapa dengan nama yang indah, Siti Kewe.
Pensyahadatan Siti Kewe dibaca dengan rapalan, "
Bismillah. Siti Kewe, Kunikahen ko urum kuyu. Tanoh kin saksimu. Wih kin walimu. Lo kin saksi kalam mu
Kopi adalah kehidupan. Dan aku mengikrarkan diri. Berkejang payah. Melumuri tanganku dengan tanah. Mengayunkan parang melawan musuh yang nyata. Rumput dan gulma.
Menanam para bidadari kopi yang cantik. Tumbuh berbaris rapi di lereng dan kaki bukit. Tertata rapi bak permadani. Petani adalah seniman yang melukis tanah dengan tanaman.