Hi Steemians
Apa kabar semuanya semoga masih dalam Lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kembali melihat fenomena Steemians yang semakin menjamur sekarang ini. Menjadi hal yang positif didunia tulis menulis, dimana Aceh diketahui banyak literasi yang dimiliki pihak asing yaitu Belanda, karena kurangnya daya suka menulis dan lebih menyukai tutur kata sejak dulu. Nah, steemit.com memberikan nuansa yang berbeda di atmosfir pendidikan menulis, dimana konsep komunis yang diterapkan dalam sistem steemit, ternyata membuahkan hasil yang maksimal kepada kita semua.
Ya, konsep bagi hasil dan penyetaraan mamfaat baik pemodal, perusahaan dan steemians itu sendiri.
Dalam steemit itu sendiri, aku melihat banyak fenomena lucu, unik dan kadang menggelikkan. Seperti, sikap para steemians yang suka mengkritisi steemians lainnya, padahal dia juga baru-baru juga bermain di dunia steemit. Anehnya, steemians tersebut, akan langsung segan jika yang dia kritisi ternyata levelnya diatasnya, bahkan bisa langsung menganggap steemian itu lebih jago.
Ada juga yang 'sok kurator' padahal levelnya masih 40 kotor. Pinternya cuma menjilat para kurator, setiap postingan pasti cukeh para kurator, dengan harapan dilirik, kemudian di upvote, terus naik level lagi, tetap masih seputaran 40 kotor, tidak lebih. Besok begitu lagi, menjilat lagi para kurator, namun dengan jurus 'Sok Peduli' para steemian yang lebih rendah, tetap dengan gaya yang sama, apalagi kalau bukan cukeh kurator.
Ada juga yang menulis, tulisan memuji para kurator, dengan harapan 100 % vote untuk dia hari ini. Jangankan 100 persen vote, dilirik saja kadang ngak. Tapi tetap juga dengan harapan yang sama, mencari vote para kurator. Demi menjilat para kurator, steemian jenis ini, rela tidak tidur hingga 2x24 jam. Nah, saat sekali di vote, dia rela lagi tidak tdur 4x24 jam, untuk apa? Untuk menulis yang baik-baik lagi
kepada para kurator, berharap di vote dan dikomen lagi.
Para penjilat kurator, biasanya akan membela kurator jika kita kritisi, meskipun sang kurator salah, tetap akan dibela hingga akhir hayat, layaknya Sang Pegasus dalam film Saint Saiya saat membela Dewi Athena yang hampir mata karena terkena panahnya Capricon.
Pesanku lagi, kepada para steemians yang sok sedang belajar menulis padahal sedang memburu dollar, kepada para penjilat kurator, dengan level masih 40 kotor dan berharap menjadi kurator. Cukup, hentikan muslihat kalian yang tak ada gunanya itu, padahi saja usahamu dalam memanjangkan daging tanpa tulang itu.
Kalau kata sahabatku yang gila satu lagi :