BEBERAPA waktu yang lalu, Jembatan Kutablang di Kabupaten Bireun sebagai penghubung jalan Banda Aceh - Medan mengalami oleng. Akibatnya, jembatan tersebut yang melintasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan terpaksa dihancurkan untuk di perbaiki kembali. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Mei 2017, dimana akibat kondisi Jembatan yang sudah berusia puluhan tahun ambruk akibat terkikisnya tiang pancang jembatan tersebut. Salah-satu akibat terkikisnya tiang pancang tersebut adalah karena tumpakan sampah yang tersangkut ditiang jembatan, sehingga air terhambat mengalir dan mengikis pasar yang ada di dasar ting jembatan. Namun, sampai dengan saat ini Jembatan tersebut sudah mulai tahap pembangunan yang prediksikan akan selesai beberapa tahun kemudian.
Sperti yang kita ketahui bersama Jembatan tersebut merupakan lintas jalan nasional, sehingga pembuatannya menggunakan Anggaran Pembelanjaan Nasional (APBN) yang menghabisakn anggaran mencapai 37 Milyar Rupiah. Jembatan tersebut dibuat oleh pihak ketiga yaitu; PT. Reskarya selaku perpanjangan tangan pemerintah dan pemenang tender dari pembangunan proyek tersebut. Ambruknya Jembatan tersebut sangat terasa bagi penggunan jalan. Bagi pengguna jalan yang harus melintasi DAS Peusangan terpaksa menggunakan jalur alternatif yang membutuhkan waktu agak sedikit lebih lama dari waktu yang semestinya mereka gunakan. Kurang lebih pengguna jalan harus menambah durasi waktu perjalanan satu jam untuk bisa melintasi DAS Peusangan dengan mengambil jalur alternatif.
Pun demikian, ada manfaat tersendiri bagi warga setampat dengan ambruknya Jembatan tersebut. Warga melihat peluang bisnis dengan melakukan penawaran jasa angkutan Boat Tradisional (Siketek) bagi pengguna jalan yang melintasi DAS tersebut. Penggunan jalan yang buru-buru bisa melintasi jembatan tersebut dengan menumpang pada Siketek dengan ongkos angkutan Rp. 5.000 per kereta. Bagi yang buru-buru atau yang berpacu dengan waktu, tentu tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan Rp. 5.000 agar bisa menghemat waktu kurang lebih satu jam-an. "Mungkin inilah salah-satu contoh sengsara membawa nikmat". Semasa jalan tersebut masih bagus pengguna jalan lalu-lalang Banda Aceh - Medan tanpa mempertimbangkan debu atau kebisingan bagi warga dipinggir jalan. Dengan ambruknya jembatan tersebut warga mendapat sedikit keuntungan dari pengguna jalan.
Pun demikian, saya berharap semoga jalan tersebut dapat diperbaiki secapatnya. Sehingga akses jalan Banda Aceh - Medan kembali normal seperti semula. Bagi warga yang memanfaatkan kondisi tersebut sebagai peluang bisnis dengan menawarkan jasa nagkutan bagi pengguna jalan yang melintasi sungai tersebut dapat beralih pada pekerjaannya sedia kala.