Saya bertemu Wagiyo tepat di depan rumah. Besok adalah hari raya. Seharusnya ia sudah berkumpul bersama keluarga. Namun faktanya dia masih saja mencangkul tanah keras, sesekali menginjaknya kuat. Ia dan beberapa teman lainnya bertugas untuk menanam kabel sepanjang 800 meter milik PLN. Tidak banyak bicara. Mereka berhenti hanya untuk minum beberapa teguk air. Lalu kembali bekerja.
Wagiyo adalah pekerja asal Binjai, Sumatera Utara. Logat Jawanya masih terdengar jelas. Ia bekerja di Aceh lalu pulang ke Binjai berkumpul bersama keluarga. Itupun tidak terlalu sering. Sebagai buruh ia bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan di Aceh. Kalau uang sudah terkumpul ia baru pulang. Meski sering juga ia ditipu.
“Untuk anak istri” kata Wagiyo
Saya penasaran sekaligus iba. Mengapa ia harus banting tulang seperti ini. Di malam hari raya dia masih terus bekerja. Malam dimana ia seharusnya sudah berada di rumah bersama keluarga. Sesekali ia menyapu keringat. Ia berjanji pada dirinya untuk tiba di rumah esok pagi. Berlebaran bersama-sama.
()
source
Begitu pula dengan Dedi. Saya bertemu dengannya di Kota Tua Jakarta. Sudah tiga tahun ia bekerja menggunakan kostum Mario Bros. Tak lelah Ia menyapa setiap orang yang mendekat. Berlakon manis lagi manja. Padahal saya tau jika penutup kepalanya itu berat, pengap dan panas.
“Kalau bukan untuk mencari uang, satu jam saja sudah pingsan” Ujarnya.
Pak Dedi mengaku pendapatan yang ia peroleh dalam sehari bisa mencapai 200 ribu rupiah. Seharian itu bila dihitung dari pagi hingga menjelang malam. Tidak ada patokan berapa seorang pengunjung harus membayar untuk sekali foto bersamanya. Seiklasnya saja. Bahkan banyak juga pengunjung yang hanya mengucapkan “terimakasih”. Pak Dedi Cuma bisa pasrah. Tugasnya hanya berlakon manis sambil melambaikan tangan memanggil orang-orang di dekatnya. Baginya Rezeki sudah ada yang mengatur. Tidak ia dapatkan hari ini, bisa jadi telah dipersiapkan untuk esok hari. Uang yang diperolehnya digunakan untuk anak-anaknya bersekolah.
()
Beda lagi dengan Dani. Kawan sekolah saya ini memilih sebagai prajurit TNI. Dua tahun lalu ia ditempatkan di perbatasan Papua dengan Papua Nugini. Ia tidur dan tinggal di hutan bersama prajurit lain. Berbulan-bulan lamanya. Saya saat itu sedang bersekolah, faham betul bagaimana ia memendam rindu pada keluarganya. Di media sosial ia sempat membagikan foto momen perpisahan sebelum kemudian ia dan rombongan berangkat.
“Mau bagaimana, tugas negara” katanya saat saya tanya mengapa ia harus pergi begitu jauh.
Saya yakin kalau diberi pilihan, ia akan memilih berada dekat dengan keluarga. Dapat memeluk anak-anak dan mengajar bagaimana caranya mencintai tanah air seperti yang ia lakukan. Tapi pilihan telah ia buat. Dari tengah hutan sesekali ia mengirim gambar ke media sosial, bagaimana ia begitu mencintai keluarganya seperti ia menaruh hati bagi bangsanya.
Wagito, Dedi dan Dani adalah tiga Ayah yang luar biasa. Mereka adalah cuplikan wajah-wajah Ayah di dunia yang menjadi teladan. Lelah, kerja keras bukanlah beban. Bagi mereka keluarga adalah segalanya. Meski itu harus ditunjukkan dengan cara yang paling keras sekalipun.