Apa yang lebih parah dari sebuah rindu tak terobati?
Pernah kutanyakan itu kepada angin yang lewat sepintas lalu. Saat aku menyiram kembang mawarku yang mulai berputik, itupun hanya satu, angin tiba-tiba hadir dengan memberi kode.
Satu-satunya putik mawar itu bergoyang perlahan. Lalu, kutanyakanlah pertanyaan konyol itu. Kukatakan konyol, sebab manalah angin bisa menjawab. Dan akhirnya memang tak kutemukan apa pun jawaban dari pertanyaan itu.
Aku pun mencoba masuk ke dalam diriku sendiri. Mencoba mencari sumber yang menerbitkan rindu itu. Berkali-kali, bahkan lebih sulit daripada masuk ke perut Bumi. Betapa abstraknya ruang batin manusia itu. Seperti labirin yang membawa kita pada ujung lorong yang berbeda.
Namun tak sekalipun berhasil mencari jalan keluar dari jalur yang sama. Dan rindu itu, bercokol di jantungnya bagai lintah si penghisap darah. Pelan-pelan diisapnya ruang perasaan kita yang paling manusiawi.
Kalau begitu, apa yang lebih parah dari sebuah rindu tak terobati?