Pun pada kali ini, aku hanya mengulang kisah terdahulu. Angsana akan luruh dengan sendirinya. Tanpa seorang pun sempat menyadari kehadirannya.
Satu-satunya putik mawar di teras rumahku sudah mekar sempurna pagi tadi. Tapi tak sedikit pun mengundang hasratku untuk membaui keharumannya. Mengapa harus terpedaya pada warna dan kelopaknya yang bersusun-susun.
Air akan turun sebagai hujan ketika awan tak lagi sanggup menahan tekananannya di atmosfer. Pun air mata. Ketika hati sudah demikian sengkaknya. Ketika jiwa sudah demikian pengapnya. Ketika harap sudah kehilangan tujuan. Ia tumpah. Pecah. Meruah sebagai apa saja.
Tinggallah jasad sebagai penikmat denyut. Tinggallah raga sebagai penikmat lara. Tinggallah hasrat sebagai penikmat mortalitas. Tinggallah...tinggallah...tinggallah...
Dia sudah mati. Dia sudah mati. Dia sudah mati.
Kebahagiaannya adalah duri-duri yang menggerogoti kehidupannya. Ia menyulap senyumnya bagai matahari menghadirkan fatamorgana. Ia hidup hanya untuk kamuflase. Ia hidup hanya untuk pura-pura.
Pun pada kali ini, aku hanya mengulang kisah terdahulu. Angsana akan luruh dengan sendirinya. Tanpa seorang pun sempat menyadari kehadirannya.