Jujur, aku tidak tahu dan memahami apa arti cinta sesungguhnya. Mungkin di antara kalian ada yang lebih mengerti dan paham apa itu cinta, apalagi cinta abadi. Sungguh, aku tidak peka terhadap cinta. Aku juga tidak dapat merangkai kata hingga menjadi sebuah kalimat layaknya seorang syair demi memimat hati seseorang dan menjadikannya seorang kekasih.
Hingga terkadang cinta sangat sukar untuk dimengerti. Apa lagi untuk menyatakan, cinta adalah sesuatu yang sangat sulit diungkapkan dan terpendam begitu saja bagaikan lemak yang bergumpalan di sana di sini. Aku benci itu!
Namun, berbeda dengan kisah cinta kakek dan nenek dari pihak ayahku. Kakek menyatakan cinta tanpa terbata-bata dan siap menerima resiko dari berbagai pihak. Baik itu dari pihak keluarganya maupun keluarga nenek. "Cinta itu buta," mungkin kalimat tersebutlah yang telah melanda kakekku pada saat itu.
Dikisahkan oleh nenekku beberapa tahun yang lalu. Bahwasanya Relus Sihombing sang pujaan hatinya terlahir dari keluarga yang sangat taat beribadah kepada Tuhannya.
Namun segalanya berubah setelah bertemu dengan nenek. Ditambah lagi dengan berita bahwa kakek telah berpindah agama yang selama ini dianut oleh buyutnya hingga dirinya, hanya karena ingin menikahi Fatimah gadis yang kecil mungil asal Padang, Sumatera Barat.
Aku mengerti bagaimana perasaan nenek buyutku sebagai orang tua. Yang telah melahirkan, menyusui, menjaga, dan mendidiknya menjadi seorang anak yang patut dibanggakan. Namun, kakek tetap pada pendiriannya untuk memeluk agama barunya yaitu Islam. Meski tidak dianggap lagi sebagai anak oleh nenek dan kakek buyutku.
Keliau adalah seorang tentara yang gagah dan perkasa, begitulah kisah nenek kepadaku. Meski dari segi dialek ia terbilang kasar namun hatinya dapat membuat siapa saja luluh seketika. Hingga nenek mencintai sepenuh hati meski tidak direstui oleh mertuanya. Tapi apalah daya ia, cintanya telah menggebu. Apalagi kakek sangat antusias mempelajari dan mendalami akidah barunya, Islam.
Alhasil, dari pernikahan tersebut nenek memiliki tiga orang putra yang tampan dan dua orang putri yang cantik jelita. Setelah beberapa tahun tidak menjalin komunikasi dengan kakek dan nenek buyutku, kakek merasa bersalah dan meminta maaf atas segala kesalahannya yang kini telah membuat hati orang tuanya terluka.
Foto kakek, nenek dan ketiga anaknya. Ayahku anak nomor dua dari sebelah kanan yang telah berusia 63 tahun.
Kala itu alat komunikasi hanyalah saling menyurat satu sama lain. Tidak lama setelah itu adik kakekku tiba di rumah kakek dan menyatakan bahwa ia telah mengikuti jejaknya. Kakek dan nenek hanya dapat memberikan motivasi dan inspirasi, tidak lebih dari itu. Setelah kejadian itu kakek dan adiknya tidak pernah menerima balasan surat, hingga sekarang aku tidak tahu saudara dari pihak kakek.
Begitulah secuil kisah cinta yang nyata yang dijalani oleh nenek dan kakekku. Kurasa aku perlu menuliskan sedikit kisah cinta mereka agar menjadi kisah nyata yang abadi. Mungkin banyak kisah cinta lainnya yang mungkin sama bahkan berbeda.
Nenekku meninggal dunia di usia 89 pada tahun 2017, sedangkan kakekku meninggal ketika tengah bertugas di Aceh Tamiang dan dimakamkan di Makam Pahlawan Kuala Simpang. Semoga kakek dan nenek mendapatkan ganjaran yang setimpal dari Allah SWT, amin....
"Cinta membutuhkan sebuah pengorbanan", begitulah kalimat nenek yang kini tertanam dalam hati dan pikiranku.