Masih melekat di ingatan ketika Tuhan mengajarkan untuk membaca keadaan, mengeja raut wajah, dan mengerti pola sebab akibat dan memutar pola akibat yang akan menjadikan sebab.
Dulu ku rasa hanya semu, semua hanya akan berlalu tanpa kenangan yang abadi tak termakan oleh waktu.
Kini ku berhadapan dengan pembelajaran itu, banyak yang sibuk berganti muka di waktu yang tersisa, memutar keadaan layaknya Tuhan, dan bermain kata seperti baru bisa mengeja.
Tak ada yang menuntut roda untuk berputar, karena roda tau kodrat awal kenapa dia diciptakan.
Aku dicipta untuk melakuan pola yang terencana, tetapi dengan iringan nada yang berbeda.
Jika anda bisa merasa, tak perlu membuka drama di panggung yang sama.