Seorang karib bertanya kepada saya tentang bagaimana menulis buku. Apa saja yang harus dipersiapkan? Sampai tahun 2018 ini, saya sudah menyelesaikan buku ke-20. Jika karir kepenulisan saya dimulai tahun 1997, maka hampir 20 tahun saya menulis. Kebiasaan menulis tersebut bukan dimulai dari menulis buku atau opini di koran, melainkan menulis di jurnal ilmiah. Karena itu, ketika ditanyakan bagaimana cara menulis buku, agak sulit saya menjelaskan secara rinci. Namun berangkat pengalaman hampir 20 tahun, ada beberapa catatan yang mungkin dapat menjawab “bagaimana saya menulis buku?”
Salah satu yang paling penting, jika kita menulis, terutama dalam bidang buku akademik atau monograf adalah kekuatan membaca literatur. Ketika saya menulis pada tahun 1998, saat itu di kamar kost saya buku-buku yang dikoleksi hampir mencapai 200. Di samping itu, saya juga berlangganan koran dan tabloid. Saat itu, saya berlangganan Harian Kompas dan Tabloid Adil. Dari surat kabar tersebut saya mempelajari bagaimana penulis-penulis terkemuka menuangkan gagasan mereka dalam satu halaman opini. Saat itu, penulis yang sangat saya kagumi cara kepenulisannya adalah Komarudin Hidayat, Emha Ainun Najib, Azyumardi Azra. Di samping itu, saya suka membaca karya-karya Kahlil Gibran.
Buku pertama yang saya beli saat di Yogya adalah Membumika Al-Qur’an, karya Quraish Shihab. Setelah itu, saya mengoleksi buku-buku yang diterbitkan oleh Paramadina, Mizan, dan penerbit-penerbit lainnya yang jumlahnya tidak sedikit di Yogyakarta. Hampir setiap bulan, saya membeli buku. Hal ini merupakan tren mahasiswa Yogya. Mereka malu jika belum membaca buku baru. Era tahun 1990-an akhir, mahasiswa/i di Yogyakarta selalu menenteng buku baru di tangan mereka. Akibatnya, kamar kost saya menjadi penuh dengan buku dan surat kabar nasional.
Setelah mengoleksi buku, saat saya mengunjungi pameran buku saya selalu menyisir setiap penerbit-penerbit buku. Pada satu sudut penerbit, terdapat stan CSIS, dimana mereka menjual kumpulan kliping koran. Setelah melihat ini, lantas saya mencoba mengklipping koran yang ada di kamar kost saya. Semua opini saya klipping. Berita-berita yang penting juga tidak ketinggalan. Saat itu, saya belum mengenal Google atau data base jurnal-jurnal ilmiah. Bahan klipping koran ini akhir menjadi bank data bagi saya untuk menulis buku.
Pada awalnya, bukan buku yang hendak saya hasilkan, melainkan makalah-makalah ilmiah yang saya ajukan dalam berbagai lomba karya tulis. Namun, guru saya, Prof. Akh. Minhaji selalu mengatakan bahwa jika hendak menulis karya ilmiah, saya harus mengusai satu pendekatan di dalam menyajikan tulisan. Saat itu, saya memutuskan untuk mendalami pendekatan sejarah (historical approach). Lantas, buku-buku tentang pendekatan sejarah saya coba pahami. Lagi-lagi, saya memang tidak memiliki latarbelakang ilmu sejarah. Di sini, saya membaca buku-buku Kuntowijoyo, sebagai seorang sejarawah terkemuka dari UGM. Demikian pula, karya-karya Prof. Minhaji selalu menggunakan pendekatan sejarah sosial (social history). Pendekatan ini juga saya temukan dalam tulisan Prof. Atho Mudzhar ketika dia menerapkannya dalam memahami hukum Islam. Disertasi Prof. Atho tentang kajian Fatwa MUI saya baca secara perlahan-lahan untuk memahami bagaimana penerapan pendekatan sosial-sejarah dalam penelitian.
Selanjutnya, saya mulai menulis makalah ilmiah. Guru saya Prof. Minhaji kemudian memaksa saya untuk belajar bahasa Indonesia. Buku-buku tata cara penulisan karya ilmiah pun saya beli dan dalami. Salah satu buku yang paling berkesan adalah karya The Liang Gie yang berjudul Pengantar Dunia Karang Mengarang. Di samping itu, buku-buku tentang metode penulisan karya ilmiah saya pelajari secara mendalam, seperti apa itu kalimat, apa itu paragraf, bagaimana meletakkan ide dalam tulisan. Intinya, melalui bahasa Indonesia, saya diantar untuk menulis sesempurna mungkin dan seilmiah mungkin.
Untuk kata yang terakhir, yaitu seilmiah mungkin, Prof. Minhaji mengatakan bahwa setiap kata dan kalimat harus dipertanggungjawabkan dalam penulisan karya ilmiah. Di sinilah saya diajar menulis dengan “catatan kaki.” Saya dipinjamkan buku tata cara pengutipan yang ditulis oleh Kate L. Turabian. Buku ini sepertinya menjadi pegangan wajib bagi mahasiswa di Barat untuk menulis karya ilmiah. Dari buku inilah saya paham apa dan bagaimana fungsi “catatan kaki.” Sehingga dalam berbagai tulisan saya, selalu banyak sekali “catatan kaki” yang tersajikan di dalamnya. Harus diakui bahwa “catatan kaki” sangat penting di dalam penulisan karya ilmiah, sebab disitu selain sebagai rujukan, juga memberikan informasi kepada pembaca.
Selain buku-buku di atas, ada lagi buku yang sangat memberikan pengaruh bagi saya yaitu karya Prof. Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bagi mahasiswa S-1, buku ini terlalu berat. Namun, saat itu saya membacanya untuk memahami bagaimana tata pikir logik dalam penelitian dan penulisan karya ilmiah. Beberapa mahasiswa S-2 sering mengatakan bahwa buku ini sangat berat, namun mereka yang hendak menulis tesis atau disertasi buku ini merupakan suatu keharusan.
Setelah beberapa persiapan di atas, saya terus belajar menulis. Tanpa ada pelatihan karya ilmiah. Tulisan pertama yang saya hasilkan adalah yang terbit di Jurnal Al-Jami’ah. Tulisan ini saya perbaiki sampai 8 kali. Dalam proses penulisan karya tersebut, saya pun mulai ikut lomba penulisan karya ilmiah. Dalam beberapa lomba, saya hampir selalu memenangi, mulai dari juara pertama hingga ketiga. Dari beberapa karya ilmiah tersebut kemudian dibukukan dengan judul Islam Historis yang terbit pada tahun 2002 dan diterbitkan ulang pada tahun 2017.
Bersambung...