We often find it difficult to forgive people for making mistakes to us. Indeed this is not an easy matter. But actually, "forgiving" is not for those who are guilty of us, but for our own good.
Feeling angry, hateful, or hurt after someone hurts us in a certain event means we allow the person to hurt us constantly. because we always think of repetitive kajadian.
Why do we allow the person to enjoy "continuous" pleasure despite knowing that our lives will continue to suffer from his behavior?
Why not just the opposite, we show that we have "forgotten" and lived well? That way, we have stopped their "pleasure" from our suffering. Is not that a better choice?
The word "Sorry" will not make the guilty person good.
The word "Sorry" also will not make that already hurt so healed as before.
The word "sorry" moreover, also can not restore who has pergib to be back; erasing wrong becomes very true; which has been broken into a whole back.
But remember the word "Sorry" we say sincerely and ihklas, beyond that measure, past the size of the world.
The word "Sorry" can water the heart to be more brilliant. Clear. Peace. And that is the essence of forgiving. because having a vindictive nature is not good.
Forgiveness frees us from the broken iron bars.
Kita sering merasa sulit memaafkan orang telah membuat kesalahan kepada kita. Memang ini bukan perkara yang mudah. Tetapi sesungguhnya, “memafkan” bukanlah untuk kepentingan mereka yang bersalah kepada kita, melainkan untuk kebaikan diri kita sendiri.
Merasa marah, benci, atau sakit hati setelah seseorang menyakiti kita dalam sebuah peristiwa tertentu berarti kita mengizinkan orang tersebut menyakiti kita terus-menerus. karna kita selalu mimikirkan kajadian yang berulang ulang.
Mengapa kita mengizinkan orang tersebut menikmati kesenangan “terus-menerus” meski mengetahui bahwa hidup kitalah yang akan terus menderita akibat kelakuan nya?
Mengapa tidak sebalikanya, kita menunjukkan bahwa kita telah “ melupakan ” dan hidup dengan baik? Dengan begitu, kita telah menghentikan rasa “senang” mereka terhadap penderitaan kita. Bukankah itu pilihan yang lebih baik?
Kata “ Maaf ” tidak akan membuat orang yang bersalah jadi baik.
Kata “Maaf” juga tidak akan membuat yang terlanjur tersakiti jadi sembuh seperti sebelum nya.
Kata “Maaf” apalagi, juga tidak bisa mengembalikan yang telah pergib menjadi kembali; menghapus salah menjadi sangat benar; yang sudah rusak menjadi kembali utuh.
Tapi ingat lah kata “Maaf” yang kita ucapkan dengan tulus dan ihklas, melampaui ukuran itu semua, melewati ukuran dunia.
Kata “Maaf” bisa menyiram hati menjadi lebih cemerlang. Bening. Damai. Dan itulah hakikat memaafkan. karna punya sifat mendendam itu tidak baik.
Memaafkan itu membebaskan diri kita dari jeruji besi keterpurukan.