Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah postingan dari bang tentang Mimpi Besar. Sebelum saya ikut mengulas tentang mimpi. Saya mengharapkan kepada semua steemian untuk membaca postingan tersebut:
Dalam renunganku teringat saat aku menjelaskan kepada juniorku tentang impian yang harus tercipta. Impian adalah keinginan yang memberikan energi kepada pembuat impian untuk bekerja lebih keras agar bisa membuat mimpi menjadi kenyataan.
Pengantar Tentang Impian
Dalam kehidupan, manusia sejak kecil sudah mulai memiliki impian yang sering disebut dengan kata cita-cita. Impian ini adalah bentuk keinginan kita atas sesuatu yang ingin kita dapatkan suatu saat nanti dengan penuh keyakinan dan kegembiraan.
Dengan bangga, kita mengatakan ingin menjadi dokter, pengacara, pengusaha, presiden, menteri, wali kota, guru, pilot, tentara, polisi dan jabatan lain. Akan tetapi, seiring dengan waktu yang berganti, impian itu terkikis oleh realitas yang kita ciptakan untuk menghambat tindakan dalam memenuhi impian tersebut.
Kita tanpa sadar, menciptakan apa yang tidak penting. Kita dengan banyak alasan mengatakan sesuatu yang menjadi penyakit atau penghambat untuk mencapai impian. Sehingga, dengan alasan pembenar, kita mengatakan bahwa kita sudah mendapatkan takdir seperti ini, seperti apa yang kita dapatkan sekarang.
Padahal, sudah banyak buku yang memberi motivasi bagi pembaca untuk berani bermimpi, bahkan memperkenalkan teknis-teknis bagaimana bermimpi yang benar dan usaha apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan impian itu.
Selain itu, banyak pembicara tentang motivasi yang sudah terbukti bahwa dia mampu memberikan jalan kepada kita untuk berani bermimpi dan menciptakan impian untuk sukses di dunia. Anda tinggal mencari di google tentang orang-orang yang berani bermimpi dan sukses, serta bagaimana mereka berjuang untuk menciptakan impian yang benar dengan ukuran yang tepat.
Tetap saja muncul pertanyaan, bagaimana jika kami tertidur dengan mimpi-mimpi itu? Bagaimana jika kami tidak bisa meraih impian itu? Pada bagian selanjutnya, saya akan menjelaskan cara bermimpi dengan tingkatan impian.
Membuat Impian Yang Benar
Suatu ketika, seorang mahasiswa yang belajar di Fakultas Pendidikan menanyakan kepadaku tentang bagaimana menciptakan impian yang benar? Apakah dia salah jika dia hanya bermimpi menjadi seorang guru? Saya menjawabnya, anda tidak salah menjadi seorang guru.
Saya membutuhkan beberapa lama waktu untuk memikirkan bagaimana cara menjelaskan tentang impian kepada mahasiswa tersebut. Saya coba memandang matanya dengan perlahan-lahan. Setelah saya mendapatkan suatu keyakinan untuk menjelaskan, saya pun memulai penjelasan dengan menciptakan tingkatan impian sesuai dengan pendidikan orang itu.
Saya mengatakan, apakah salah jika kamu bermimpi menjadi seorang Menteri Pendirikan di Negeri ini? Dia menjawab dengan kalimat, tentu saja tidak salah. Lalu saya melanjutkan pertanyaan, apakah salah jika kamu berminpi menjadi pimpinan di Universitasmu? Dia menjawab dengan merasa bahwa dia mendapat sindirian dariku. Dia mengatakan, tidak, aku bisa saja menjadi pimpinan di universitas ini.
Lalu, kenapa kita tidak menciptakan impian menjadi menteri pendidikan? Dia diam untuk sesaat. Kemudian aku menceritakan bahwa ada sebuah pepatah lama yang sudah seharusnya bisa membantu kita menciptakan impian besar.
Saya mengatakan bahwa, seandainya dia memiliki impian sebagai seorang menteri pendirikan, tentu saja usahanya akan lebih giat, misalnya target awal hanya menjadi seorang sarjana, lalu memasang target menjadi seorang profesor.
Jadi, bila kita bisa mencapai target dalam pendidikan. Kita bisa saja menjadi dosen yang pada akhir usaha menilih untuk menjadi pimpinan lembaga pendidikan. Atau, kita bisa memilih menjadi kepala di dinas pendidikan, mimpi itu adalah turunan dari mimpi tertinggi.
Jika target tidak bisa tercapai dengan maksimal. Kita bisa memilih menjadi kepala sekolah. Lalu, mimpi terkecilnya adalah menjadi seorang guru. Tentu saja semua tergantung pada usaha dan kerja keras.
Namun, untuk mencapai semua mimpi tersebut, kita juga harus memahami jalan mana yang harus kita pilih. Jika kita memilih impian seperti contoh tersebut. Maka, kita harus menyelesaikan semua jenjang pendidikan, mulai dari Strata I, II dan III atau meraih gelar Sarjana, Master lalu Doktor.
Seandainya kita bermimpi menjadi guru. Maka usaha kita cukup dengan meraih gelar sarjana. Padahal, kita memiliki kesanggupan untuk sekolah sampai meraih gelar doktor. Tentu saja, energi dari menciptakan impian dengan tahapannya adalah kekuatan dalam meraih mimpi terbesar.
Oleh sebab itu, mari kita mengatur ulang impian dengan tahapan bagaimana tingkatan impian. Selanjutnya, kita bisa merencanakan ulang bagaimana mencapai tahapan untuk membuat mimpi menjadi kenyataan. Ingatlah bahwa Tuhan akan memberikan semua yang kita doakan sesuai dengan usaha dan kerja keras yang telah kita lakukan.
Sesungguhnya Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya.
Terima kasih telah membaca postingan sederhana ini. Saya berharap kita bisa mengulang kembali masa indah bermimpi di saat kecil. Katakan dengan suara yang keras dan yakin, aku akan menjadi apa yang aku impikan.
Salam Hormat
Andrian Habibi
Komunitas Steemit Indonesia Chapter Jakarta