Akhir-akhir ini media sosial dipenuhi dengan beritanya seorang wanita yang berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Islam di negeri yang berlimpah darah itu. Razan Alnajjar namanya. Seorang wanita yang anggun nan shalihah yang berprofesi sebagai seorang ahli medis dan jua seorang ibu dari anaknya. Mungkin...anaknya tak akan pernah mengenal sosok ibunya yang sangat luar biasa. Namun aku tak khawatir akan hal itu, karena aku percaya bahwa sosok ibunya akan mengalir pada dirinya.
Hatiku merasa bersalah jika melihat sosoknya di layar handphoneku. Entah mengapa? Rasanya ingin kulangkahkan kakiku untuk ikut berjuang dengan mereka walau hanya melempar sebuah batu ke arah mereka yang saat ini berkuasa karena kekuatan mereka. Ia, mereka memiliki segalanya kecuali janah- Nya. Semoga mereka diberi kesadaran atas apa yang telah mereka lakukan dan menempuh janahnya yang begitu sempurna.
Razan Alnajjar berjuang dan mengorbankan dirinya untuk melindungi mereka yang membutuhkan pertolongan Allah melalui dirinya. Hatiku menggebu bila melihat kejadian demi kejadian. Ingin rasanya kutaburkan berbagai macam benda untuk menhacurkan kedurhakaan mereka terhadap sesama manusia. Nihil, aku hanya dapat menggeram dan mengepalkan jariku ke arah yang salah.
Aku tahu doa adalah salah satu senjata yang paling mustajab untuk menolong mereka dari jarak jauh. Namun aku merasa tak puas dan merasa iri kepada sosok wanita yang shalihah itu, Razan Alnajjar. Oh, salahkah aku bila merasa iri terhadapnya yang memiliki sesuatu yang luar biasa. Jika ia, aku memohon ampunan kepada-Nya.
Anak-anak, perempuan dibantai tanpa rasa kemanusiaan yang melekat di hati mereka. Aku rasa...hati mereka tercipta dari api juga baja. Bagaimana tidak?Mayat yang tak berdosa bertaburan dimana-mana, seolah-olah mereka adalah binatang melata. Bahkan lebih hina dari pada itu. Mereka akan menanggung akibatnya, percayalah!!!
Razan Alnajjar menjadi salah satu contoh dari beribu kejadian yang menimpa mereka setiap hari, menit dan detik. Tak dapat terjangkau olehku bagaimana kelak jika posisiku berada pada posisi mereka. Anak-anak menjadi yatim dan piatu, ibu-ibu kehilangan anak yang mereka cintai, bahkan anak yang di dalam kandungan pun dipaksa untuk digugurkan oleh mereka yang tak memiliki rasa kemanusiaan. Nauzubillah...summa naiudzubillah. Dimana letak keadilan di dunia ini?
Ya sudah, biarkanlah kejadian ini berjalan sesuai dengan aturan-Nya. Ialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sungguh, janah telah menanti kedatangan mereka. Begitu pula dengan neraka dan buah zakum yang telah disediakan sebagai santapan mereka yang hina.
Tak dapat kurangkaikan kata maupun kalimat untuk bidadari penghuni surga. Yang kuyakini hanya satu...janah-Nya telah menantimu di bulan ramadan yang penuh berkah ini. Aku percaya itu!