Sahabat Stemians, saat ini pemerintah sedang gencar-gencarnya mencegah penyebaran berita yang tak jelas asal muasalnya. Berita-berita yang kadar kebenarannya sama sekali nol alias nihil. Anak-anak jaman now sering menyebutnya hoax. Tak hanya di negeri ini, di banyak negara lain, termasuk negara tetangga kita juga sudah bersepakat untuk menekan agar hoax itu tak bebas bergentayangan.
Nah, sebenarnya mudah untuk menghalau hoax. Yang paling penting adalah, kita memasang filter pada setiap diri kita untuk tabayyun. Untuk selalu memverifikasi apapun yang kita terima. Kita dilarang menelan bulat-bulat apa setiap informasi atau berita yang kita dapat.
Lebih lagi di jaman teknologi yang serba muktakhir saat ini, akan sangat malu bila kita kuper dan tak update sehingga mudah dikibuli. Gawai yang ada di tangan kita sangat cerdas. Karenanya dinamai dengan smartphone. Karena hal itu pula jangan sampai perangkat yang kita beli itu kemudian justru semakin membuat kita tampak terbelakang. Sejatinya kita bisa memanfaatkan perangkat tersebut untuk menelisik kebenaran informasi yang kita dapat.
Kita bisa memanfaatkan perangkat berteknologi dan berjaringan ini untuk mencari tahu banyak hal. Bukan hanya terkait informasi yang beredar, tetapi kita juga dapat mencari tahu dengan mudah siapa pelaku yang menyebarkan informasi itu. Bila informasi itu cenderung akurat dan faktual, lebih lagi yang mengirimnnya adalah orang atau figur yang kredibel, barulah kita bisa memercayainya.
Sebaliknya, bila informasi yang disebarkan itu tidak jelas dan pelakunya juga tidak jelas, maka buanglah jauih-jauh agar tidak ‘tertelan’. Sekalipun informasi itu datang dari negeri yang jauh. Karena asal informasi bukan jaminan bahwa apa yang kita baca itu benar.
Di sebagian kita memang sangat mudah untuk memercayai bila info itu tersebar di banyak dinding media sosial. Lebih lagi bila ada kata ‘asing’ di dalamnya. Seakan-akan, itu sudah kebenaran mutlak. Tidak tahunya, usut punya usut, si pelaku yang jauh-jauh menyebarkan info hoax itu punya kepentingan sendiri atau target lain dari para ‘korbannya’.
Untuk itu, marilah kita bijak dalam berkomunikasi, bijak dalam menerima informasi, dan juga bijak dalam mengunyah informasi. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca, semoga bermanfaat dan semakin membuat kita semakin matang dalam berinteraksi dengan banyak orang di dunia maya ini.