Dalam kehidupan ini tentu ada orang-orang dekat yang selalu ada dalam keseharian kita. Mereka biasa kita sebut sebagai teman atau sahabat. Namun di tengah perkembangan teknologi digital ini, banyak yang menganalogikan bahwa sahabat sudah berganti dengan gawai. Kita lebih senang menghabiskan waktu dan duduk sendiri dengan gawai dari pada keluar bertemu teman atau para sahabat.
Anehnya, setelah keluar dan bertemu teman dan sahabat, kita juga masih disibukkan dengan gawai itu. Waktu dan perhatian kita tetap pada gawai.
Alasannya, dalam gawai itu ada beribu teman atau beribu sahabat yang bisa dikontak jarak jauh. Lebih mudah, karena tak harus berjumpa. Tetap bisa berbagi cerita dengan telepon atau bahkan bisa saling bertatapan jarak jauh melalui fasilitas video call.
Namun hal itu bukan kondisi yang terbaik. Karena kita sering kali membutuhkan sesuatu yang ada di sekeliling kita. Ketika tiba-tiba sakit, maka yang harus mengantar kita ke rumah sakit adalah mereka yang ada di samping kita. Begitu pun ketika kita butuh bantuan untuk hal lain. Maka jangan abaikan teman atau sahabat di sekitar.
Silaturrahmi tetap harus terjalin indah, sekalipun kita sudah menjangkau teman yang jauh. Dan seharusnya hal ini menjadi dua hal yang harus disyukuri dan menjadi anugerah. Kita tidak kehilangan teman yang jauh karena bantuan fasilitas teknologi. Pada saat yang sama kita juga terus intens bisa bertatap muka dan bertemu dengan teman dan sahabat yang ada.
Jadi dua-duanya menjadi anugerah. Tidak ada yang menjadi musibah. Namun bila yang jauh kita rajut komunikasi dengan baik, sementara yang dekat justru merasa terabaikan, ini ada yang menjadi anugerah dan ada yang musibah.
Mari tetap rajin merawat silaturrahmi dengan teman-teman yang luar biasa. Jangan merasa dekat di alam maya, namun justru terasing di alam nyata.