Saya baru tahu jika pohon bambu itu tidak mempunyai pertumbuhan bearti pada batangnya di bawah usia lima tahun. Ia baru terlihat melonjak setelah usia di atas lima tahun. Nah ternyata di sinilah pelajaran pentingnya. Bambu mengajarkan kita kematangan. Betapa ia harus menyiapkan persiapan pondasi yang amat kokoh untuk menghadapi kehidupan yang berat.
Karena itu dalam kurun lima tahun pertama, kita tidak akan menemukan pertumbuhan batang bambu secara signifikan. Yang kita lihat hanya pertumbuhan secara perlahan. Mungkin hanya bertambah dalam hitungan centi meter. Namun bukan bearti ia tidak tumbuh. Bambu tumbuh dalam menyiapkan pijakan yang kokoh.
Bambu butuh pondasi yang amat kuat karena ia tahu kelak ia akan hidup menjulang. Bukan hanya tinggi namun akan berat untuk menerima hempasan angin, bahkan badai.
Begitulah bambu mengajarkan kita tentang kesabaran. Jangan cepat putus asa ketika waktu terus berjalan dan kita belum melihat hasilnya. Boleh jadi, kita butuh waktu untuk menyiapkan diri agar kelak kita benar-benar kuat dalam petarungan hidup yang berat.
Di luar itu, bambu tak hanya menyiapkan fisiknya agar selalu kuat dan tumbuh pesat kemudian. Namun ia juga belajar dari pengalaman bahwa setiap hambatan selalu ada jalan keluarnya. Seperti ketika angin datang menghempas, ia akan menunduk. Setelah angin berlalu ia akan kembali tegak.
Begitu juga kita. Saat masalah datang bertubi, perlu sejenak untuk memikirkan apa yang telah kita lakukan, mengevaluasi dan kemudian mencari jalan terbaik. Mengambil waktu untuk menyusun strategi baru, bukan bearti kita menyerah. Karena setelah itu akan lebih mantap dalam berjalan. Seperti bambu yang bisa kembali tegak setelah angin berlalu.
Namun jangan pernah merasa diri paling pintar, karena itulah kebodohan paling besar. Bambu yang tinggi dan keras, bisa melenturkan diri. Ia tak pernah jemawa menjadi yang paling hebat. Bahkan tak pernah lepas dari satu sama lain. Meski kuat, ia tetap bersama komunitasnya.