PADA Sabtu, 12 Maret 2018 kemarin. Saya bersama istri menyempatkan memenuhi undangan seorang sahabat yang datang dari Takengon Khalisuddin, untuk ngopi disalah satu café di kawasan Simpang Lima Banda Aceh.
Sebagai sahabat yang telah lumayan lama tak bersua, banyak cerita yang mengalir. Mulai dari dunia tulis menulis hingga usaha arung jeram yang kini digelutinya. Namun dibalik semua carita, ada satu yang saya nilai sangat menarik. Yakni hadirnya dua orang pengamen yang bermain musik dengan mengandalkan drum mini dan gotar.
Dimata dan telinga saya mereka bermian cukup apik dan sangat menghibur tentunya. Saya yakin kita semua pernah melihat dan mendengar para pengamen bermian musik dengan berbagai gaya dan cara.
Ada yang bernyanyi memakai alat drum mini dan gitar, ada juga yang memainkan gitar plus harmonika, ada yang hanya gitar saja, ada yang pakai botol yang diisi pasir/krikil atau hanya sekedar bertepuk tangan.
Kalau suara, ada yang sekedar bersuara, namun yang juga yang enak di dengar bahkan terkadang ada suara pengamen itu sejajar bahkan melebihi artis-artis di tanah air ini – apalagi artis kabitan --. Hehehe…
Kaum pengamen ini menjual suara dari cafe ke café, dari satu keramaian ke keramaian lainnya, bahkan ada juga dari satu bus angkutan ke angkutan lain. Intinya, mereka berusaha mencari rezeki dengan skill yang mereka miliki.
Apa yang dilakukan tersebut, merupakan sebuah usaha mengais rezeki, meski terkadang banyak orang yang memandangnya “sebelah mata”. Usaha mereka kaum pengamen tersebut, mungkin tidaklah layak dikatakan sebagai pengemis yang notabene hanya mengandalkan “cerita sedih” untuk meminta-minta.
Para pengamen menjual suara untuk mencari rezeki. Begitu juga kita para steemians, lewat berkarya kita bisa meraup rezeki. Bukan seperti pengemis yang hanya bisa mengadahkan tangan ke atas. Begitu juga kita para steemians, tidak hanya berharap vote atau upvote, tanpa mampu menghasilkan sebuah karya yang berkualitas.
Mungkin para steemians ada yang tidak sepakat soal ini. Tapi pada kenyataannya begitulah faktanya. Islam sendiri mengajarkan kita untuk mencari rezeki di atas bumi Allah ini. Dengan berusaha dan berdoa, anak cucu Adam akan terus bergelut dengan dinamika dunia.
Seperti kita juga para steemians, yang terus berkarya baik musik, tulisan, fotografi bahkan vidio untuk mengais rezeki lewat wadah media sosial ini. banyak cerita sukses steemians dunia yang kiranya perlu kita contoh.
Dimana, lewat karya terbaik dan berkualitas mereka telah menghasilkan penghasilan yang luar biasa. Bahkan ada yang mengalahkan gaji seorang direktur BUMN. Siapa saja mereka yang sukses…silahkan para steemians berselancar sendiri mencarinya.
Mengutip satu motivasi yang ditulis steem senior Aceh yang juga curator untuk Indonesia
, bahwa: “Seorang steemians itu harus memiliki mental sukses dan mental sukses tidak hanya terlihat dari mereka yang sudah memiliki reputasi tinggi, tapi juga dari mereka yang masih berada di reputasi rendah. Mental sukses benar-benar mendorong mereka untuk tumbuh dan berkembang di @Steemit“
Karenanya, teruslah berkarya… berkarya dan berkarya dan terus berkarya untuk menyajikan dan menghasilkan yang terbaik. Marilah kita berkarya…mari berkarya bersama-sama. Hilangkan rasa duka lara… seperti video di bawah ini: