Pepatah baru mengatakan, "Sejarah yang tidak ditulis akan menjadi dongeng. Sebaliknya, dongeng yang ditulis akan menjadi sejarah".
Menulis adalah bagian dari ikhtiar kita untuk menceritakan sejarah. Kehidupan kita, kehidupan orang-orang sekeliling kita, dan kehidupan orang-orang yang berpengaruh di sekitar kita akan hilang seiring tua dan matinya orang itu, jika kita tidak menulisnya. Kemudian ia akan hilang dari ingatan kita.
Saya adalah seseorang yang nyaris “hilang” dari ingatan publik ketika saya tidak pernah menulis lagi. Kesibukan dalam pekerjaan adalah alasan yang umum dan klasik yang saya sampaikan ketika ada orang bertanya, “Mengapa kamu tidak menulis lagi?”
Adalah Mustafa Ismail , seorang sahabat baik saya, sesama penulis, penyair dan jurnalis yang dalam dua tiga tahun ini mendorong saya untuk menulis lagi. “Mal tulis Mal,” adalah kata yang paling sering diucapkan Mustafa ketika bertemu saya. Sakin seringnya pertanyaan itu diucapkannya, kadang saya menghindar untuk bertemu dia, guna menghindar pertanyaan itu diulangi oleh jurnalis senior Majalah dan Koran TEMPO itu.
Mustafa adalah orang terdekat saya yang tidak pernah menyerah untuk mengajak saya menulis. Sewaktu sama-sama tinggal di Aceh, di awal karir saya sebagai penulis dan penyair di era 1990an, kami sering menulis terutama di media-media lokal, seperti Serambi Indonesia, Harian Peristiwa dan Atjehpost. Waktu itu saya menjadi salah seorang jurnalis Warta Unsyiah, dan Mustafa adalah penulis freelance untuk bidang budaya, seperti esai, puisi dan cerpen.
Akhir 1990-an Mustafa pindah ke Jakarta, dan kemudian dia diterima bekerja sebagai jurnalis di TEMPO. Beberapa saat kemudian, dia mengajak saya bergabung di TEMPO sebagai koresponden untuk liputan Aceh. Kehidupan dan komunikasi kami sangat intens seiring dengan intensnya media memuat tulisan kami.
Saya kemudian menulis di banyak media sepanjang 1989 sampai 2004. Ketika menetap di Jakarta, tahun 2003 saya bersama teman-teman seperti risman rachman dan Dandhy Dwi Laksono mendirikan Acehkita dan juga menulis di media itu. Kebiasaan dan hobi menulis itu berlangsung hingga akhir 2004.
Selama sepuluh tahun itu, nyaris saya berhenti menulis. Jika pun ada hanya tulisan opini dan puisi, yang jumlahnya bisa dihitung pakai jari. Tahun 2014, saya hijrah lagi ke Jakarta, dan bertemu lagi Mustafa Ismail, orang yang tak pernah menyerah mengajak saya menulis.
Mengapa Tidak Menulis?
Saya tidak pernah bertanya, mengapa Mustafa terus menyuruhku untuk menulis. Tetapi, suatu hari saya menemukan satu kutipan di media sosial, dari seorang novelis besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Katanya: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tdak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Kutipan Pak Pram itu mengagetkan saya. Apakah saya akan hilang seperti yang diceritakan Novelis kebanggaan saya itu?
Dua pekan lalu, saya bertemu kembali (Secara tanpa sengaja) dengan Mustafa, dan sahabat saya Willy Ana . Mustafa mengulang lagi anjuran yang bernada perintah itu, “Mal, Tulis Mal!” Lalu Mustafa menceramahi saya, “Banyak statusmu di media sosial yang bisa diangkat jadi tulisan panjang, dan akan berguna jika dibagikan lebih luas ke pembaca melalui Steemit.”
Dengan terinspirasi dari Pak Pram, saya mulai bertanya ke Mus dan Willy, bagaimana cara mendaftarkan diri di Steemit dan menulis di sana. Dari sana mereka berdua mengajari saya membuat akun di Steemit, dan hari ini, saya menyempatkan diri membuka dan menulis postingan pertama yang saat ini anda baca.
Tulisan ini tentu bukan tulisan yang bagus. Namun, berangkat dari sini saya ingin menancapkan tekat, saya akan memulai lagi, lagi dan lagi. Menulis untuk kesenangan, menulis untuk menambah kebahagiaan.
Saya ingin mengikuti anjuran pepatah yang saya kutip di awal tulisan ini, bahwa sejarah hidup dan pergaulan saya dengan warga dunia tidak boleh menjadi dongeng. Saya ingin buktikan, bahwa sejarah hidup saya layak jadi sejarah, bukan jadi dongeng.***