Kota Lhokseumawe dulunya dijuluki sebagai kota petro dolar, nama tersebut melekat karena adanya beberapa proyek raksasa penghasil devisa negara dan daerah saat itu, seperti PT/ Arun LNG & Co. PT Kertas Kraf Aceh (KKA), dan PT pupuk Iskandar Muda (PIM). diantara proyek -proyek raksasa tersebut ada satu objek parawisata saat ini yang menjadi urat ikon kota Lhokseumawe, yaitu Gua Jepang atau sering disebut dengan Taman Wisata Ngieng Jioeh.
Bila mendengar namanya saja, muncul kengerian luar biasa oleh kita. karena teringat keberingasan penjajahan Jepang emperlakukan bangsa kita pada penjajahan dulu selama 3,5 tahun. lokasi gua tersebut berada dipinggiran kota Lhokseumawe tepat di atas buket Desa Blang Panyang, tepat dijalan Raya Medan Banda Aceh
Untuk menghentikan polemik terhadap nama yang kepiluan keganasan tentara Jepang pada saat menjajah, oleh pemerintah Kota Lhokseumawe merubah nama tersebut menjadi lebih arif dan relavan yaitu Taman Ngieng Jioh. (Bahasa Daerah) yang artinya taman untuk melihat kejauhan.
Taman Ngieng Jioh memang sangat tepat ditabalkan untuk taman tersebut dikarenakan posisinya yang berada diatas perbukitan sehingga kita dengan leluasa bisa melihat ke sekeliling kita yang menghadirkan keindahan yang luar biasa.
Banyak wisatawan yang berdatangan ke taman wiasata tersebut setiap harinya, terlebih pada akhir pekan. biasanya mareka berdatangan secara pribadi ataupun secara rombongan dari berbagai instansi dan lembaga, bahkan ada yang dari manca negara. yang dipandu oleh warga lokal
bagi rekan stemian yang ada wakt berkunjang ke taman wisata Taman Ngieng Jioeh, duduk sembara diatas perbukitan yang tinggi sambil menikmati indah laut ujong blang dengan latar proyek raksasa PT Arun dengan tabung gas raksasa yang berdiri. dan bial memungkin keindahan matahari terbenam juga panorama terindah yang tersaji di taman Ngieng Jioeh..