Halo sobat Steemians yang mungkin juga punya hobi bercocok tanam seperti saya.
Hari ini saya ingin berbagi tips dalam membuat kompos sendiri.
Di Jerman kita wajib memisahkan sampah dan dikota saya biaya servis pembuangan sampah bulanan ditentukan berdasarkan jumlah sampah yang kita buang. Jadi setiap kali tong sampah kita diambil petugas, isinya akan ditimbang.
Di kota lain ada yang dihitung berdasarkan jumlah orang yang tinggal di rumah tersebut. Kedua metode ada plus minusnya tentu aja. Sistem itungan per-kepala tentunya rugi kalau misalnya penghuninya jarang dirumah karena pekerjaannya menuntut banyak travelling, sehingga jumlah sampah yang diproduksi orang tersebut selama dirumah tentunya sedikit.
Untung kalau misalnya RT tersebut kebetulan gede-gede semua sehingga banyak makan, jadi banyak sampah juga hahaha.
Kalau sebagian dari sampah dibikin kompos kan timbangan sampah jadi ringan.
Tapi meskipun nggak ditimbang, tetap saja jauh lebih baik bgi alam kalau kita mengurangi sampah semaksimal mungkin, terutama jika sampah tersebut sebenarnya bisa dijadikan produk yang berguna lagi daripada menggunung di satu tempat atau dibakar. Makin banyak yang harus dibakar, makin gede polusinya kan.
Suka sedih kalau melihat betapa orang Indonesia baru pada suka bertanam ketika di tinggal di Eropa (terlepas dari mereka punya kebun ataupun bertanam memakai pot di balkon). Padahal disini iklimnya susah, cuma bisa bertanam sebentar doang karena ada musim dingin yang kejam, udah gitu tanahnya ngga selalu gampang diolah.
Sementara di Indonesia yang punya matahari sepanjang tahun dan tanahnya subur, kompos murah, segala macem bisa tumbuh malah pertaniannya ditelantarkan, dan orang yang hobi berkebun juga cukup langka.
Jangan ngeles sibuk ya, emangnya di Eropa orangnya pada males-malesan, kan sama-sama harus kerja juga kalau mau cukup sandang pangan dan papan toh?
Bahkan disini kalau punya anak semua diurus sendiri lho, ngga ada pembantu ngga ada ortu/mertua, yang bisa setiap saat dengan senang hati direpotin. Tapi masih bisa lho berkebun.
Suka gemes kalau baca koran pada ribut cabe mahal. Padahal nanam cabe itu guampaaaang banget. Nabur 1 biji juga tumbuh, dan perawatannya ngga susah. Satu pot doang aja panenannya udah banyak.
Disini cuma nanem 2 pohon aja, cabe yang diproduksi ngga habis2 dimakan.
Kalau ngga mau busuk terbuang harus dikeringin atau di bekukan biar awet.
Dan begitu masuk Oktober dah kedinginan, sebentar lagi pasti mati. Coba kalau di Indonesia pada mau nanem satu pot aja, kan ngga perlu ngomel-ngomel lagi kalau cabe mahal, karena orang Indonesia banyakan pada gila sambel dan makan gorengan sambil nyeplus cabe hehehe.
Aku dulu ditempat kos juga nanem cabe di pot lho.
Ah ya... sudahlah, langsung aja deh saya bagi tips bikin kompos nya ya.
A. Membuat Kompos dari Sampah Bagi Rumah Tangga yang Memiliki Lahan.
Caranya cukup sederhana, yaitu:
Gali tanah sedalam 50-100 cm dengan jarak minimal 10 meter dari sumur untuk menghindari tercemarnya sumur.
Isi lubang dengan sampah organik yang telah ditiriskan.
Tutup atau taburi sampah dengan tanah secara berkala untuk mengurangi bau.
Jika telah penuh, tutup lubang dengan tanah.
Setelah tiga bulan, lubang dapat digali. Hasil galian dapat digunakan sebagai kompos sedangkan lubangnya dapat digunakan untuk membuat kompos kembali. Kalau di Jerman ada banyak "composter" siap pakai yang dijual di toko. Kontainer untuk kompos ini ada yang sepenuhnya tertutup sehingga nggak menyebarkan bau menyengat.
Oh ya, jangan buang sisa makanan terutama yang ada dagingnya ke situ, supaya ngga bau busuk serta mengundang binatang liar.
Saya sendiri pakai kontainer komposter yang siap pakai, soalnya ngga terlalu mahal juga harganya, daripada susah gali-gali hehe.
Kaya gini nih wujudnya:
B. Membuat Kompos dari Sampah Bagi Rumah Tangga yang Tidak Mempunyai Lahan luas.
Mungkin sobat Stemians bertanya-tanya, kalau ngga punya lahan ngapain bikin kompos segala, mau dipakai apa?
Lho, kan ada juga orang yang tetap hobi cocok tanam meskipun ngga punya lahan luas toh. Bertanam didalam pot kan bisa, nah kalau punya kompos sendiri kan ngga harus beli tanah dan pupuk mahal-mahal gitu lho. Mengurangi jumlah sampah yg harus dibuang pula.
Bagi rumah tangga yang tidak memiliki lahan luas, pengolahan sampah menjadi kompos dapat dilakukan dengan menggunakan ember, pot, kaleng bekas, atau sejenisnya, yang sekaligus nantinya bisa dijadikan pot tanaman begitu kompos nya jadi.
Lubangi bagian dasar dan letakkan di wadah yang dapat menampung rembesan air dari dalamnya.
Masukkan sampah organik ke dalam wadah (drum) setiap hari.
Taburi dengan sedikit tanah, serbuk gergaji, atau kapur secara berkala.
Setelah penuh, tutup drum dengan tanah dan diamkan selama dua bulan.
Wadah siap dijadikan pot dengan kompos di dalamnya sebagai media tanam.
Semoga bermanfaat!