Black rice or black glutinous atau dalam bahasa setempat disebut ketan hitam, di aceh kami menyebutnya dalam beberapa dialek seperti lekat itam atau breuh lekat adang.
Ketan hitam biasanya ditanam petani diselingi diantara pada musim tanam padi, tidak seperti beras yang ditanam berhektar hektar, ketan hitam hanya ditanam beberapa petak saja, dikarenakan ketan hitam tidak dapat disimpan terlalu lama.
Ketan hitam biasanya dibuat sebagai penganan makanan seperti bubur, sebagai campuran dalam toping es krem atau kolak dingin, rasa dari ketan hitam karena tinggi serat hampir mirip seperti beras merah.
Harga ketan hitam dipasaran di bandrol lebih mahal dibandingkan dengan beras, harga satu kilo ketan hitam mencapai 20 ribuan lebih.
Selain dalam bentuk utuh, ketan hitam dapat juga ditumbuk menjadi tepung, penganan yang dibuat dari tepung ketan hitam biasanya timphan, yaitu makanan khas aceh yang terbuat dari ketan dan pisang yang didalam nya terdapat isian srikaya atau kelapa. Selain timphan tepung ketan hitam dapat juga dibuat ondel ondel dan brownies, rasanya sangat lezatttttttttt
Ketan hitam juga mengandung zat yang dapat menangkal radikal bebas atau sebagai anti kanker dalam zat warna nya.
Petani di aceh Besar menanam ketan hitam secara organik yakni hanya menggunakan sistem tradisional, pertama tama, tanah yang masih dipenuhi rumput kemudian dibajak, setelah dibajak dibiarkan selama beberapa waktu sampai membusuk dan menghasilkan unsur hara yang cukup sebagai nutrisi tanaman ketan.
Selanjutnya seperti menanam padi pada umumnya benih ketan hitam disemai dan ditanami, setelah beberapa bulan sudah dapat dipanen.
Tidak seperti bulir bulir padi yang ketika memasuki musim panen terlihat menguning kemasan namun ketan hitam dari pertama ditanam daun nya hitam keunguan sampai memasuki musim panen tetap hitam keunguan sungguh pemandangan yang eksotis