Masing-masing kubah dihasi lagi dengan tiang mustaka yang menjulang ke atas tanpa diberi hiasan bulan bintang di atasnya seperti kebanyak mesjid-mesjid yang lainnya. Mustaka pada kubah utama mirip obelisk dihiasi bulatan berhentuk seperti vas dengan adanya tongkat kecil di atasnya.
Suasana di dalam mesjid ini pun terasa sejuk dengan perpaduan cat dinding yang berwarna hijau (aqua marine) langit-langitnya pun dibiarkan terbuka begitu sahaja. Sebuah pilar dari kayu ketapng terpacak di tengah-tengah untuk menyangga kuda-kuda bangunan masjid tua itu. dan terdapat sebuah mimbar yang dibangun secara permanen yang diberikut tiga buah ceruk untuk berkhutbah para khatib .
Bagi warga Desa yang berada disekitarnya, masjid ini sangat istimewa, dikarenakan menyimpan berbagai sejarah. Meski ada yang telah dibangun baru dengan ukuran lebih besar dari sebelumnya, namun Mesjid lama itu tetap berdiri dengan kokoh.
Kondisinya tidak berubah masih sama sejak pertama kali dibangun dan belum mengalami renovasi atau perubahan bentuk sedikitpun. Sangat jauh berbeda dengan masjid-masjid tua lainnya yang pernah ada di Aceh Barat dan tempat-tempat lain pada umumnya yang telah mengalami rehabilitas maksimal.
Masjid ini pertama kali dibangun oleh generasi keempat Gunong Kleng. Karena dulu daerah ini menjadi sebuah wilayah yang sangat strategis/sentral singgah para pejalan kaki, dan dibangunlah sebuah masjid untuk bisa dijadikan sebagai tempat ibadah tempat singgah sejenak dan sarana lainnya bagi pejalan kaki yang melintas kawasan tersebut. kata salah seorang penduduk tetua setempat.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan sukses selalu Stemian #indonesia
Jangan lupa untuk UPVOTE, KOMENTAR dan Follow .