30 hari yang lalu, hari dimulainya kekeringan melanda beberapa wilayah kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Tak heran jika musim tersebut berdampak terhadap sektor pertanian. Lebih parahnya lagi, kondisi itu menjadi keluhan para petani atau pun pekebun karena terkendala air.
Seperti halnya wilayah Kabupaten Aceh Barat, bumi yang berjuluk Bumoe Teuku Umar itu sebelumnya juga mengalami hal serupa. Pasalnya, hampir empat minggu mereka (petani/pekebun) tidak merasakan dinginnya air yang jatuh dari langit.
Hal tersebut tentu membuat mereka khawatir akan kondisi yang tengah melanda ini, apalagi kondisi tanaman padi yang sudah berumur itu berdampak terhadap kualitasnya. Ditambah tanah pada tanaman tersebut mulai retak-retak, begitu pun tanamannya mulai diserang hama.
Semua perihal itu tentu hasil dampak kemarau, sehingga segala jenis tanaman mengalami kelayuan akibat musim tersebut. Apalagi, persawahan di kawasan Aceh Barat tidak memiliki irigasi. Ketika terjadi musim kemarau, maka sangat menyulitkan petani.
Selain itu, dampak faktor alam tersebut juga sangat membuat kewalahan pemerintah dalam menghadapi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), khususnya di Kabupaten Aceh Barat. Beberapa kecamatan sempat dilanda Karhutla, bahkan menjadikan kawasan Ini yang terparah di bumi Aceh ini.
Hal tersebut tidak berbeda dari yang dialami para petani, karena penanganannya sama-sama memerlukan air dan hal itu sama sekali menjadi kesulitan lantaran tengah dilanda kemarau.
Keluhnya lagi, dampak kebakaran sempat menimbulkan kabut asap yang diduga berasal dari karhutla itu. Sebaran asap mengepul beberara kecamatan, termasuk sangat terlihat di seputar kota Meulaboh yang sangat terlihat saat waktu pagi.
Untuk menanggulangi dampak asap tersebut, pemerintah sudah menyalurkan masker kepada masyarakat dibeberapa titik seputaran wilayah Meulaboh. Tentu upaya tersebut mencegah resiko terserangnya Ispa, terutama bagi anak-anak.
Sejatinya, berkat doa dari semua pihak akhirnya hujan deras mengguyur Aceh Barat. Anugerah itu tentu menjadi harapan para petani, begitu pemerintah yang tidak perlu lagi khawatir menangani karhutla.
Karena penanganan efektif menghadapi kebakaran lahan adalah dengan turunya hujan, mereka tidak perlu lagi menggunakan tenaga fisiknya dalam hal penanganan karhutla. Setelah adanya hujan, selama ini tidak ada lagi terlihat sebaran asap, begitu pun petak persawahan petani sudah mulai terlihat air.