image source
In front of the European Parliament, King Abdullah II explained the meaning of being a Muslim.
Here is a transcript of King Abdullah II's speech before the European Parliament :
Di depan Parlemen Eropa, Raja Abdullah II menjelaskan makna menjadi seorang muslim.
Berikut ini transkrip pidato Raja Abdullah II di depan Parlemen Eropa :
image source
"What does it mean to be a Muslim ?. I and many other Muslims have been taught since the early years, that our religion (Islam) demands respect and care for others.
Prophet Muhammad sallallaahu 'alaihi wasallam said, "You do not faith until you love your neighbor as you love yourself". That is the meaning of being a Muslim.
Among the names of Allah, we hear: the Most Merciful (Ar Rahman) and the Most Merciful (Ar Rahim).
During my life, every day I hear and greet "Assalamu'alaikum".
Speech to others to be blessed peacefully. This is the meaning of being a Muslim.
More than a thousand years ago before the Geneva Conventions, Muslim armies were forbidden to kill children, women and the elderly. It is forbidden to destroy trees, forbidden to harm a priest, forbade church damage.
“Apa makna sebenarnya menjadi seorang Muslim?. Aku dan banyak Muslim lainnya telah diajarkan sejak tahun-tahun pertama, bahwa agama kami (Islam) menuntut hormat dan perhatian bagi sesama.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalian tidak beriman hingga kalian mencitai sesamamu seperti kalian mencintai dirimu sendiri”. Itulah makna menjadi seorang Muslim.
Di antara nama-nama Allah, kita dengar: Maha Pengasih (Ar Rahman) dan Maha Penyayang (Ar Rahim).
Selama hidupku, setiap hari aku mendengar dan memberi salam “Assalamu’alaikum”.
Ucapan kepada orang lain agar diberkati dengan damai. Inilah makna menjadi seorang Muslim.
Lebih dari seribu tahun lalu sebelum Konvensi Jenewa, tentara muslim dilarang membunuh anak-anak, wanita dan orang tua. Dilarang merusakan pohon, dilarang mencelakakan pendeta, dilarang merusak gereja.
These same Islamic values teach us in school since childhood. It does not destroy or disfigure where God is worshiped. No mosque, no church, no synagogue.
History, geography and the future bind us. Nobody separates us, because together we can build up the pillars of mutual respect, which will support for each future generation. Thank you."
Nilai-nilai islam yang sama ini diajarkan kepada kami di sekolah sejak kanak-kanak. Tidak menghancurkan atau menodai di mana Tuhan disembah. Tidak masjid, tidak gereja, tidak sinagong.
Sejarah, geografi dan masa depan mengikat kita. Jangan ada yang memisahkan kita, karena bersama-sama kita bisa membangun pilar-pilar saling menghormati, yang akan mendukung kebaikan bersama bagi generasi mendatang. Terima kasih.”